Jokowi Patok Pertumbuhan Ekonomi 2019 di Angka 5,3 Persen

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Kamis, 16/08/2018 18:53 WIB
Jokowi Patok Pertumbuhan Ekonomi 2019 di Angka 5,3 Persen Presiden Joko Widodo menargetkan ekonomi 2019 tumbuh 5,3 persen. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan pada 2019 mendatang atau di akhir tahun pemerintahannya ekonomi Indonesia bisa tumbuh di level 5,3 persen. 

Target tersebut ia sampaikan saat pembacaan Nota Keuangan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019 di Gedung DPR, Kamis (16/8).

Jika menilik lebih jauh, target yang disampaikan presiden tersebut jauh dibawah 8 persen yang sudah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional  RPJMN 2015-2019.


Jokowi mengatakan bahwa target pertumbuhan ekonomi tersebut akan dilakukan pemerintahannya secara merata di seluruh Indonesia.

"Pertumbuhan akan dilakukan dengan mendorong makin cepat pertumbuhan di kawasn timur Indonesia, perbatasan dan daerah lain yang masih tertinggal," katanya.

Selain target pertumbuhan ekonomi, Jokowi dalam pidato tersebut menyampaikan beberapa indikator asumsi makro untuk RAPBN 2019. Untuk tingkat inflasi dipatok 3,5 persen.

Untuk suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan dipatok sebesar 5,3 persen.

Sementara untuk lifting minyak Indonesia ditargetkan 750 ribu barel per hari atau turun dari tahun ini yang dipatok 800 ribu barel.

Namun, lifting gas justru dinaikkan menjadi 1.250 ribu barel setara minyak per hari dari tahun ini sebesar 1.200 ribu barel setara minyak per hari.

Jokowi mengatakan untuk mewujudkan target pertumbuhan ekonomi tersebut, pemerintah akan terus memperbaiki iklim investasi.

"Perbaikan dilakukan melalui deregulasi, debirokratisasi dan simplikasi," katanya.

Menurutnya upaya perbaikan tersebut sudah mulai dijalankan pemerintah 2018 ini. Perbaikan tersebut, salah satunya telah dilakukan melalui deregulasi dan penerapan proses perizinan terpadu online (OSS).

Selain itu, pemerintah juga akan terus berupaya mengendalikan inflasi agar daya beli dan konsumsi masyarakat bisa dipacu.


Sementara itu Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Bambang Soesatyo meminta pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk membuat target realistis pada APBN 2019.

Ia meminta target APBN dibuat dengan memperhitungkan kondisi ekonomi global yang sampai saat ini masih belum menentu.

Kondisi global yang ia minta selalu dicermati pemerintah dalam membuat target APBN 2019 adalah kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed dan perang dagang antara AS dengan China.

Maklum saja, gejolak ekonomi global yang diakibatkan oleh dua faktor tersebut telah membebani ekonomi dalam negeri pada sepanjang 2018 ini.

Salah satu dampak, terlihat jelas pada gejolak nilai tukar rupiah yang Agustus ini terperosok ke level Rp14.600 per dolar AS, jauh dari asumsi APBN 2018 yang hanya Rp13.400. 



(agt/agt)