Pengumuman Asumsi Makro APBN 2019 Bikin Rupiah 'Lemas'

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Kamis, 16/08/2018 17:45 WIB
Pengumuman Asumsi Makro APBN 2019 Bikin Rupiah 'Lemas' Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah ditutup di posisi Rp14.626 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan pasar spot hari ini, Kamis (16/8), melemah 50 poin atau 0,34 persen dari penutupan perdagangan Rabu (15/8) yang masih bisa di level Rp14.576.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) rupiah berada di posisi Rp14.619 per dolar AS atau menguat tipis dari posisi kemarin Rp14.621 per dolar AS.

Bersama rupiah, yen Jepang turut melemah 0,08 persen dan rupee India minus 0,64 persen. Namun, mayoritas mata uang di kawasan Asia sebenarnya berhasil menguat dari dolar AS.


Renmimbi China menguat 0,76 persen, dolar Singapura 0,3 persen, won Korea Selatan 0,19 persen, peso Filipina 0,16 persen, baht Thailand 0,12 persen, dan ringgit Malaysia 0,03 persen.


Begitu pula dengan mata uang negara maju. Rubel Rusia menguat 0,76 persen, dolar Australia 0,42 persen, euro Eropa 0,24 persen, poundsterling Inggris 0,1 persen, dolar Kanada 0,08 persen, dan franc Swiss 0,02 persen.

Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong menilai pelemahan rupiah didorong kesadaran pasar atas kenaikan tingkat suku bunga acuan BI yang telah mencapai 125 basis poin (bps) bakal membebani pertumbuhan ekonomi.

"Makanya efek dari kenaikan bunga acuan BI terhadap penguatan rupiah hanya sementara, bahkan hanya satu hari. Apalagi, kenaikan itu di tengah kekhawatiran akan dampak krisis ekonomi Turki," katanya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (16/8).

Selain sentimen tersebut, Lukman mengatakan pelemahan rupiah juga dipicu penyampaian asumsi makro APBN 2019 yang direspons negatif pasar.  

Maklum, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pidato penyampaian Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 hari ini mengatakan pemerintah mematok nilai tukar rupiah pada 2019 di level Rp14.400 per dolar AS.


"Asumsi tersebut tidak bisa diterima pasar sehingga rupiah melemah," katanya.

Sementara itu sentimen lain, fundamental ekonomi Indonesia. Pasar masih menilai bahwa walau ekonomi dan inflasi terjaga baik, Indonesia masih rentan.

Bayang-bayang defisit neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan yang masih membebani ekonomi dalam negeri membuat rupiah masih sulit naik. 

(agt/bir)