Terhimpit Kenaikan Suku Bunga, Kinerja Bank BUMN Tetap Kuat

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Jumat, 24/08/2018 19:42 WIB
Terhimpit Kenaikan Suku Bunga, Kinerja Bank BUMN Tetap Kuat Ilustrasi. (CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari).
Jakarta, CNN Indonesia -- Walaupun mendapat tekanan dari kenaikan bunga acuan Bank Indonesia (BI), kinerja bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN), seperti PT Bank Mandiri (Persero), PT BRI (Persero), PT BNI (Persero), dan PT BTN (Persero) boleh dibilang masih baik.

Kondisi tersebut tercermin dari kinerja keuangan mereka pada sepanjang semester I 2018 yang cukup bagus. Berdasarkan laporan keuangan masing-masing bank pelat merah, kinerjanya sampai dengan semester I 2018 masih tumbuh positif.

Untuk BRI, sepanjang semester I berhasil mencatatkan laba Rp14,93 triliun, naik 11 persen jika dibanding periode yang sama 2017 lalu.


Sementara Bank Mandiri, sepanjang semester I berhasil meraih raba Rp12,17 triliun, tumbuh 28,7 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Dan BNI, berhasil mencetak laba Rp7,44 triliun atau naik 16 persen.

Sementara itu BTN, laba berhasil mencapai Rp1,42 triliun atau tumbuh 12,01 persen.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah Redjalam mengatakan bahwa pertumbuhan laba yang moncer tersebut ditopang oleh penyaluran kredit yang dilakukan keempat bank tersebut.

Sebelum BI menaikkan suku bunga acuan mereka, bank-bank tersebut sudah berhasil memacu penyaluran kredit.


Hal ini membuat pertumbuhan kredit melejit, bahkan lebih tinggi dari rata-rata industri.

Tercatat, pertumbuhan kredit BTN naik 19,14 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada semester I 2018. Diikuti BRI sekitar 16,2 persen, Bank Mandiri 11,8 persen, dan BNI 11,1 persen.

Sedangkan pertumbuhan kredit industri sampai Juni kemarin hanya sekitar 10,8 persen.

Pertumbuhan kredit yang cemerlang tersebut berhasil membuat pendapatan bunga yang selama ini menjadi penyumbang utama laba bagi keempat bank turut meningkat.

Pertumbuhan pendapatan bunga BNI tertinggi mencapai 13,3 persen, BTN 12,98 persen, BRI 6,8 persen, sedangkan Bank Mandiri 3,4 persen.

"Secara permintaan kredit, siklusnya memang mulai meningkat, setelah sebelumnya cukup rendah dan bank lebih fokus merestrukturisasi kredit yang bermasalah, sehingga mereka langsung gencar menyalurkan kredit lagi," ujar Piter kepada CNNIndonesia.com, Kamis (23/8).

Selain mendapat topangan pendapatan bunga, semester I kemarin kinerja pendapatan bunga juga tertopang oleh pendapatan non bunga (fee based income) seiring peningkatan tren pembayaran non tunai. Untuk BTN, fee based income tumbuh 24,09 persen, Mandiri tumbuh 18,1 persen, BNI 9,41 persen dan BRI 7,6 persen.


Menurutnya, peningkatan pendapatan bunga dan non bunga sedikit banyak mampu menekan sentimen peningkatan beban operasional bank.

Beban operasional BTN meningkat menjadi 83,92 persen, BRI menjadi 74 persen, dan BNI 71,2 persen. Hanya Bank Mandiri yang bisa menurunkan sedikit beban operasionalnya ke kisaran 67,09 persen.

Piter mengatakan bahwa peningkatan pendapatan bunga dan non bunga sedikit banyak mampu menekan peningkatan beban operasional bank. Pada periode semester I, beban operasional BTN meningkat menjadi 83,92 persen, BRI menjadi 74 persen, dan BNI 71,2 persen.

Hanya Bank Mandiri yang bisa menurunkan sedikit beban operasionalnya ke kisaran 67,09 persen.

Selain ditopang oleh pertumbuhan kredit peningkatan laba bank tersebut juga dipengaruhi oleh ketersediaan likuiditas mereka yang cukup baik.

Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berkontribusi besar pada likuditas turut memberi dukungan karena jumlahnya yang masih tumbuh lebih baik dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan DPK BTN naik paling tinggi mencapai 19,17 persen menjadi Rp189,63 triliun. Namun, jumlah DPK tertinggi dikantongi oleh BRI dengan jumlah mencapai Rp838 triliun atau tumbuh 9,11 persen. Sedangkan DPK Bank Mandiri sebesar Rp803 triliun atau tumbuh 5,5 persen dan BNI Rp463,86 triliun atau naik 13,5 persen.

Menurutnya, peningkatan DPK tersebut berhasil dimaksimalkan perbankan pada paruh pertama, khususnya sebelum momen perayaan Hari Raya Idul Fitri berlangsung.

Walau mencatatkan kinerja yang baik, tak bisa dipungkiri bahwa dari sisi kualitas penyaluran kredit, keempat bank masih mengalami masalah.

Untuk BRI masalah tercermin pada pembengkakan NPL dari 2,34 persen pada semester I 2017 menjadi 2,41 persen.

Sementara itu, Ekonom dari Institute Banking School (IBS) Batara Simatupang mengatakan pertumbuhan kredit keempat bank negara yang terbilang cemerlang tak lepas dari kondisi perekonomian Tanah Air yang melejit tinggi pada paruh pertama.

Ia memperkirakan kinerja keempat bank negara tetap akan bugar hingga akhir tahun. Kinerja pertumbuhan ekonomi yang positif pada paruh kedua tahun ini yang ditopang oleh penyelenggaraan beberapa kegiatan internasional akan mendorong kinerja mereka.

"Kendati terjadi peningkatan suku bunga, itu semua bukan hambatan karena leverage pendapatan masyarakat bisa melebihi beban bunga yang dibebankan," pungkasnya.

(agt/bir)