Penjualan Ritel Sejumlah Negara Asia Pasifik 'Tiarap'

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Senin, 03/09/2018 15:03 WIB
Penjualan Ritel Sejumlah Negara Asia Pasifik 'Tiarap' Ilustrasi. (REUTERS/Issei Kato).
Jakarta, CNN Indonesia -- Penjualan ritel sejumlah negara Asia Pasifik melambat. Tiga di antaranya, yaitu Australia, Hong Kong, dan Jepang. Penjualan ritel Australia dan Jepang bahkan nyaris stagnan.

Australia mencatat pertumbuhan penjualan ritelnya hanya tumbuh 0,3 persen pada Juli 2018, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, yakni 0,4 persen. Sedangkan ritel Jepang tumbuh tipis 0,1 persen pada Juli 2018 dibandingkan 1,4 persen pada Juni 2018.

Mengutip Reuters, Senin (3/9), Biro Statistik Australia (ABS) melansir penjualan ritelnya periode Juli merupakan yang terlemah sejak Maret lalu. Segmen pakaian dan alas kaki berkontribusi besar terhadap pelemahan penjualan ritel Australia dengan penurunan 2 persen, serta ritel barang rumah tangga yang melorot 1,2 persen.


Hal ini juga didorong oleh tekanan mata uang dolar AS terhadap dolar Australia yang sudah turun 0,2 persen atau terendah sejak awal tahun lalu.

Penjualan mengecewakan ini disinyalir terjadi karena para ekonom khawatir tentang dampak pada konsumsi rumah tangga dari pertumbuhan upah serta perlambatan di pasar perumahan yang sempat booming.

Data ABS menyebut harga rumah di Australia jatuh dalam 11 bulan berturut-turut hingga Agustus 2018 karena bank memperketat standar pinjamannya. Pertumbuhan kredit juga ada pada tingkat terlemahnya selama lebih dari empat tahun.


Beruntung, penurunan penjualan ritel tersebut diimbangi dengan peningkatan transaksi di segmen makanan dan minuman, kafe dan restoran, yang memang menjadi penopang pertumbuhan industri ritel Australia selama satu tahun belakangan ini.

Di Jepang, konsumsi rumah tangga disebut-sebut menjadi penyelamat pertumbuhan ritel negaranya. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan Jepang, meski secara bulanan angkanya terbilang stagnan, penjualan ritel secara tahun berjalan meningkat 1,5 persen pada Juli 2018 atau di atas proyeksi median sebesar 1,2 persen.

Ekonom Senior Jepang dari Capital Economics Marcel Thieliant menuturkan konsumsi rumah tangga berhasil mendongkrak penjualan ritelnya. "Pekerjaan dan upah tumbuh sangat kuat, sehingga pendapatan rumah tangga melesat," katanya.


Faktor lain yang mendorong penjualan ritel, yakni kenaikan harga bensin yang melibatkan pengecer mendapuk keuntungan, termasuk segmen obat-obatan dan kosmetik, makanan dan minuman yang menopang pertumbuhan penjualan.

Hal ini pula yang mengimbangi penurunan penjualan di segmen lainnya, seperti pakaian dan barang-barang lain department store.

Single Digit

Sementara, Hong Kong berhasil membukukan pertumbuhan penjualan ritel sebesar 7,8 persen jadi US$4,96 miliar pada Juli 2018. Namun, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 11,9 persen, penjualan ritel pada Juli hanya single digit setelah lima bulan berturut-turut mencapai double digit.

Dari sisi volume, penjualan ritel pada Juli 2018 hanya tumbuh 5,9 persen atau jauh lebih lambat ketimbang bulan sebelumnya yang meningkat 9,8 persen. Secara keseluruhan, periode Januari-Juli 2018, penjualan ritel Hong Kong meningkat 12,6 persen (nilai) dan 11,0 persen (volume).


"Laju perlambatan mencerminkan bahwa kami mulai melihat efek psikologis sengketa perdagangan," jelas Ketua Asosiasi Manajemen Ritel Hong Kong Thomson Cheng.

Selain itu, depresiasi nilai tukar yuan juga membuat dolar Hong Kong menjadi lebih mahal. "Ketidakpastian masih ada di sini, karena dampak negatif sengketa perdagangan tidak akan hilang dalam waktu dekat," terang dia.

Kendati demikian, ia tetap memperkirakan pertumbuhan penjualan ritel pada Agustus akan tetap single digit. Konflik dagang antara Amerika Serikat dengan China dan suku bunga yang tinggi diyakini mulai menjadi penghalang pertumbuhan ritel Hong Kong.


(Reuters/bir)