Beda 'Kelontong' OK OCE di Tangan Anies-Sandi dan Relawan

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Rabu, 05/09/2018 07:13 WIB
Beda 'Kelontong' OK OCE di Tangan Anies-Sandi dan Relawan OK OCE Mart dan Gerai OK OCE merupakan ritel yang berbeda. Mart adalah besutan relawan Anies-Sandi, sedangkan satunya diinisiasi langsung program Anies-Sandi. (Detikcom/Pradita Utama).
Jakarta, CNN Indonesia -- Serupa tapi tak sama. Pameo ini tepat menggambarkan kelontong modern bertajuk OK OCE Mart dan Gerai OK OCE. Sebab, meski memiliki nama yang mirip, pengelolaan ritel keduanya berbeda.

Mart merupakan inisiatif relawan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno ketika kedunya mencalonkan diri sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Sementara, Gerai OK OCE adalah program yang diadaptasi langsung oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Anies - Sandi.

Saat ini, Gerai OK OCE sendiri baru berdiri satu unit dan beroperasi melalui kerja sama dengan Perkumpulan Gerakan OK OCE (PGO) dan PD Pasar Jaya. Namun, Ketua PGO Faransyah Jaya mengatakan masyarakat punya kesempatan untuk membangun Gerai layaknya usaha waralaba.


Rencananya, ada dua opsi kemitraan yang ditawarkan. Pertama, PD Pasar Jaya akan membantu calon mitra untuk mengakses pembiayaan ke perbankan untuk memulai usahanya.

Kedua, mengizinkan beberapa orang membentuk satu koperasi dengan usaha patungan untuk bermitra dengan Gerai OK OCE. "Keduanya sedang kami timbang," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (4/9).

Opsi kemitraan ini ditawarkan mengingat modal membuka Gerai tidak murah. Calon mitra harus merogoh kocek paling tidak Rp125 juta sebagai modal awal. Modal itu dialirkan untuk merenovasi kontainer dan rak-rak sebesar Rp75 juta dan pembelian stok barang Rp50 juta.


Ketentuan modal ini, lanjut Faransyah, memang syarat yang disepakati PGO dan PD Pasar Jaya. Namun begitu, nilai ini sebetulnya fleksibel dan tidak mengikat.

"Misalnya mereka sudah punya rak-raknya serta kontainer sebagai lokasi berjualan, mereka cuma bayar Rp50 juta saja sebagai modal awal," papar dia.

Selain itu menurutnya, calon mitra juga tak perlu cemas dengan sewa tempat. Sebab, lokasi tempat bisa dilakukan di lahan milik mitra atau di lahan yang dimiliki oleh Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP).


Masalah sewa tempat, lanjut dia, sangat krusial lantaran bisa menghemat biaya operasional. Saat ini, omzet satu Gerai OK OCE minimal Rp90 juta per bulan dengan profit mencapai 10 persen hingga 15 persen dari angka tersebut.

Jika sang mitra harus menyewa lahan, ia pesimis omzet yang didapat cukup untuk menutup biaya operasionalnya.

Hal itu yang terjadi dengan OK OCE Mart yang berlokasi di Kalibata. Meski OK OCE Mart diakui sebagai bisnis terpisah dari Gerai OK OCE, namun setidaknya itu bisa dijadikan bahan pembelajaran.


"Dan sebetulnya biaya operasional untuk Gerai OK OCE ini standar saja, yakni listrik dan pegawai," papar dia.

Namun, sebelum jadi mitra, tentu masyarakat harus jadi anggota OK OCE terlebih dulu. Adapun, saat ini anggota OK OCE sudah menembus 50 ribu di seantero Jakarta. "Dan jadi anggota pun gampang, tinggal daftar di website kami saja," terangnya.


(bir)