Menteri Rini Klaim Bank BUMN Masih 'Kebal' Pelemahan Rupiah

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 13/09/2018 06:22 WIB
Menteri Rini Klaim Bank BUMN Masih 'Kebal' Pelemahan Rupiah Menteri BUMN Rini Soemarno mengklaim bank-bank BUMN masih dalam kondisi terjaga, meski rupiah mendapat tekanan dari penguatan AS. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMNRini Soemarno mengklaim bank-bank BUMN atau Himpunan Bank-bank Negara (Himbara) masih dalam kondisi terjaga, meski rupiah mendapatkan tekanan dari penguatan dolar AS.

Tren nilai tukar rupiah memang melemah sejak awal dihantam penguatan dolar AS. Pekan lalu, rupiah bahkan menyentuh Rp15 ribu per dolar AS. Dengan posisi itu, pelemahan rupiah mencapai rekor baru, yaitu hingga 11 persen sejak awal tahun.

"Kemarin saya berbicara dengan direktur perbankan (bank pelat merah), mereka mengatakan kondisi masih baik," ujarnya di Soehana Hall Energy Building, Rabu (12/9).


Di tengah pelemahan rupiah, diketahui bank tetap memberikan perhatian pada nasabah yang melakukan impor pada jumlah besar. Pasalnya, pembayaran impor menggunakan dolar AS yang harganya semakin mahal dan berisiko membuat bengkak beban usaha perusahaan. Selain aktivitas impor juga mengerek kebutuhan valas perbankan.

Guna mengantisipasi hal itu, pemerintah pun mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk menekan impor, seperti kenaikan Pajak Penghasilan (PPh) 22 impor, dan perluasan program mandatari pencampuran biodiesel sebanyak 20 persen pada minyak solar (B20).

Rini juga telah menginstruksikan kepada perusahaan pelat merah yang membutuhkan pendanaan investasi maupun operasional untuk menarik dana dari luar negeri, sehingga tidak perlu membeli dolar AS dalam jumlah besar dari bank-bank Himpunan Bank Negara (Himbara).


Bank-bank Himbara, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk rata-rata diperkirakan menjual sekitar US$100 juta per hari di pasar.

Perusahaan pelat merah tersebut bisa meminjam dari perbankan luar negeri maupun sumber offshore lain untuk jangka menengah hingga panjang. Perusahaan juga bisa menerbitkan obligasi dalam denominasi dolar AS.

"Saya sekarang menekankan kepada BUMN untuk tidak terlalu membeli dolar AS di bank Himbara, sehingga bank-bank Himbara bisa memasok dolar AS ke pasar," imbuhnya.


Dari sisi keuangan, kinerja keuangan perbankan pelat merah terbilang mumpuni. Sepanjang paruh pertama tahun ini, BRI menjadi bank dengan nominal laba terbesar, yaitu mencapai Rp14,93 triliun atau tumbuh 11 persen dari semester I tahun lalu.

Kemudian, pada periode yang sama, Bank Mandiri mencetak laba sebesar Rp12,17 triliun atau melonjak 28,7 persen. Sedangkan BNI tumbuh 16 persen dengan perolehan laba sebesar Rp7,44 triliun. Terakhir, BTN mencetak laba sebesar Rp1,42 triliun atau tumbuh 12,01 persen.


(bir)