Denmark 'Cium' Transaksi Pencucian Uang di Danske Bank

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 23/09/2018 12:55 WIB
Denmark 'Cium' Transaksi Pencucian Uang di Danske Bank Ilustrasi. (REUTERS/Fabian Bimmer).
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga keuangan terbesar Denmark, Danske Bank, mencium transaksi mencurigakan di kantor cabangnya di Estonia. Berdasarkan penyelidikan internal perusahaan, ribuan nasabah kantor cabang tersebut dicurigai melakukan tindak pidana pencucian uang.

Kantor cabang Danske Bank, yang mengelola sekitar US$235 miliar milik 15 ribu nasabah asing pada periode 2007-2015, menyebut bahwa 6.200 nasabah di antaranya melakukan transaksi mencurigakan.

CEO Danske Bank Thomas Borgen, seperti dikutip CNN.com, Minggu (23/3) menyatakan siap untuk mundur dari jabatannya jika otoritas Denmark membuka kembali penyelidikan terkait.


"Namun, masalahnya tidak akan hilang dengan kepergian seorang eksekutif (pejabat bank). Sebab, persoalannya bukan karena peraturan anti pencucian uang Uni Eropa masih lemah, melainkan karena hukum tidak ditegakkan dengan baik," ujarnya.

Pada 2012 lalu, Danske Bank setuju untuk membayar US$1,92 miliar untuk menyelesaikan tuduhan pencucian uang dengan regulator AS. Ketika itu otoritas terkait menyebut bahwa HSBC mengizinkan kartel narkoba jaringan internasional yang paling terkenal untuk 'mencuci' miliar dolar AS.

Kasus tersebut memicu gelombang kampanye anti pencucian uang dan reformasi di seluruh dunia, termasuk di Uni Eropa. Namun, alih-alih menghilang, kasus serupa justru terus bermunculan setelah lembaga keuangan di Belanda melakukan hal yang sama.

"Ada sanksi yang sangat terbatas diberlakukan di beberapa negara dan badan pengawas di tingkat nasional tidak selalu melakukan pekerjaan mereka," terang Laure Brilliaud, Ahli Pencucian Uang dari Transparency International.

Masalah utamanya, ia melanjutkan, Eropa tidak memiliki satu organisasi yang menggugat kejahatan pencucian uang. Tiga regulator utama bidang keuangan di Eropa hanya memiliki dua pejabat yang bekerja penuh dalam pencegahan pencucian uang.


"Kasus-kasus baru di sektor perbankan menunjukkan bahwa mereka tidak selalu diawasi dan ditegakkan dengan standar tinggi yang sama di seluruh Uni Eropa," imbuh Vera Jourova, pejabat papan atas Eropa.

Buktinya, ia menjelaskan, uang kotor yang masuk ke dalam sistem perbankan di satu dari 28 negara di Uni Eropa dapat dengan mudahnya dipindah-pindahkan.

Karena kasus-kasus pencucian uang tersebut, Komisi Eropa mengusulkan agar dibuat aturan yang lebih kuat untuk mengatur kerja pengawas nasional.


(mjs/bir)