Starbucks Ubah Struktur Perusahaan dan Kurangi Tenaga Kerja

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 25/09/2018 12:35 WIB
Starbucks Ubah Struktur Perusahaan dan Kurangi Tenaga Kerja Starbucks Corp berencana melakukan restrukturisasi organisasi, termasuk perubahan jabatan pemimpin, termasuk pengurangan tenaga kerja. (REUTERS/Carlo Allegri).
Jakarta, CNN Indonesia -- Starbucks Corp berencana melakukan restrukturisasi organisasi, termasuk perubahan jabatan pemimpin, termasuk pengurangan tenaga kerja. Hal itu disampaikan Chief Executive Officer Starbucks Kevin Johnson dalam sebuah memo.

"Akan ada beberapa pengurangan pekerjaan, beberapa perluasan peran, dan pemindahan jabatan," kata juru bicara perusahaan kepada Reuters, Senin (24/9) waktu Amerika Serikat (AS).

Perubahan terjadi pada saat perusahaan ritel kopi terbesar di dunia itu sedang menghadapi tantangan, yakni kondisi pasar AS yang 'dingin'. Tak hanya itu, persaingan yang ketat dengan para pesaing juga menyulitkan perusahaan, terutama ketika memperluas proyek besar-besaran di China.



"Mulai pekan depan dan pertengahan November akan ada pergeseran kepemimpinan dan dampak kemitraan non-ritel, seiring pengembangan arah tim di seluruh organisasi dari sisi ukuran, ruang lingkup dan tujuan," kata Johnson dalam memonya.

Starbucks telah memperkirakan dua pejabat tingginya mengundurkan diri sejak Juni 2018, termasuk Howard Schultz, mantan chief executive officer. Saat itu, kepergian Schultz memicu kekhawatiran investor tentang bagaimana perusahaan akan berevolusi setelah hampir empat dekade kehadiran Schultz hampir konsisten.

Sebelumnya pada pertengahan 2018 lalu, Starbucks pusatnya di AS dikabarkan akan menutup 150 gerai atau sekitar tiga kali lipat dari jumlah penutupan tahun-tahun sebelumnya, karena kinerja operasional yang menurun. Penjualan Starbucks diperkirakan hanya tumbuh 1 persen secara kuartalan.


Untuk itu, gerai yang kurang potensial akan ditutup, misalnya yang terletak di daerah perkotaan yang penuh penduduk dengan lokasi gerai Starbucks yang juga padat.

"Kami harus bergerak lebih cepat untuk mengatasi perubahan preferensi dan kebutuhan yang cepat dari para pelanggan," kata CEO Starbucks Kevin Johnson, dikutip dari CNN.com pada Juni lalu.

(Reuters/lav)