BKPM: Investasi Tumbuh 7 Persen asal Dolar di Bawah Rp15 Ribu

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 25/09/2018 17:14 WIB
BKPM: Investasi Tumbuh 7 Persen asal Dolar di Bawah Rp15 Ribu Ilustrasi nilai tukar rupiah. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) berharap nilai tukar rupiah tak menembus Rp15 ribu per dolar AS agar investasi tahun depan bisa tumbuh 7 persen sesuai target pemerintah. Nilai tukar dianggap sensitif dengan keputusan penanaman modal di sektor riil.

Plt Deputi bidang Perencanaan Penanaman Modal BKPM Wisnu Wijaya Soedibjo mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mencapai Rp15 ribu sebenarnya bukan batas kurs yang bisa ditoleransi investor. Namun, depresiasi rupiah belakangan yang dinilai terlalu cepat dapat mempengaruhi keputusan investor.

Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menunjukkan nilai tukar rupiah saat ini di angka Rp14.893 per dolar AS. Dengan kata lain, rupiah sudah terdepresiasi 9,97 persen dibanding posisi awal tahun yakni Rp13.542 per dolar AS.


"Bayangkan saja, kurs naik dari Rp13.800 per dolar AS lalu ke angka Rp14 ribu, itu bagi sebagian bidang usaha itu bisa dirugikan. Makanya memang kursnya agar jangan naik terlalu cepat. Agar pertumbuhan investasi tahun depan bisa 7 persen, maka kurs kurang lebih di bawah Rp15 ribu," jelas Wisnu di kantornya, Selasa (25/9).


Ia melanjutkan, beberapa investasi yang bisa dirugikan karena pelemahan kurs adalah farmasi, kimia, serta elektronik, di mana sebagian besar bahan bakunya memang disediakan dari impor. Namun, untuk industri berbasis ekspor, seharusnya faktor nilai tukar tak buat tertekan. Ini lantaran pelemahan kurs seharusnya bikin harga produk Indonesia kompetitif di pasar global.

"Investasi industri yang bahan impornya mencapai 80 persen hingga 90 persen dari total seluruh penggunaan bahan baku ini jelas dirugikan," papar dia.

Ia memperkirakan pertumbuhan investasi di kuartal III tak akan berbeda jauh dengan kuartal II. Namun, ia berharap pertumbuhan investasi akan lebih baik di tahun depan.

Menurut data BKPM, realisasi investasi riil di kuartal II kemarin hanya tumbuh 3,1 persen. Ini juga menyebabkan komponen Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) di dalam pertumbuhan ekonomi kuartal lalu hanya mencapai 5,87 persen. Padahal, pertumbuhan PMTB selalu berada di atas 7 persen sejak kuartal III 2017.


"Kami tidak mau berandai-andai (mengenai angka pertumbuhan investasi), tapi kami akan coba semaksimal mungkin," pungkas Wisnu.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berharap pertumbuhan PMTB di tahun depan bisa mencapai 7 persen agar pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,2 persen sesuai target sementara Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019.

"Untuk tahun 2019, kami harap growth mencapai 5,3 persen, dengan rincian konsumsi bisa di atas 5,1 persen, investasi 7 persen, ekspor 6,3 persen, dan impor 7,1 persen," jelas dia. (glh/agi)