Bisnis Wells Fargo Tak Tertular Booming Ekonomi AS

Tim, CNN Indonesia | Senin, 15/10/2018 02:52 WIB
Bisnis Wells Fargo Tak Tertular <i>Booming</i> Ekonomi AS Ilustrasi perbankan Amerika Serikat. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wells Fargo, bank ketiga terbesar di Amerika Serikat (AS), mencatat perlambatan bisnis di tengah penguatan ekonomi negaranya. Buktinya, simpanan perseroan susut 3 persen atau sebesar US$40 miliar selama satu terakhir.

Tak cuma itu, kredit yang disalurkan perseroan juga turun tipis satu persen dibandingkan tahun lalu.

Padahal, bank-bank kelas kakap AS sukses membukukan pertumbuhan pesat didukung oleh tingkat pengangguran Amerika yang rendah yang pertumbuhan ekonomi yang di atas ekspektasi. Sebut saja, JP Morgan Chase dan Citigroup.

Simpanan JP Morgan tercatat meningkat 4 persen menjadi US$1,5 triliun, sedangkan simpanan Citigroup naik 4 persen menjadi US$1 triliun.


Mengutip CNN.com, Minggu (14/10), perlambatan bisnis Wells Fargo tak terlepas dari skandal dan sanksi regulator wilayah setempat dua tahun lalu.

Analis CFRA Ken Leon mengatakan bahwa perseroan telah kehilangan kesempatan untuk mengembangkan bisnis pinjaman komersialnya karena terkikisnya kepercayaan nasabah.

Namun, hal itu dibantah manajemen perseroan.


"Hubungan kami dengan pelanggan sebenarnya berada pada pijakan yang sangat baik," ujar Kepala Keuangan Wells Fargo John Shrewsberry.

Untuk menguatkan pernyataannya, ia menunjukkan pertumbuhan jumlah nasabah akun giro aktifnya tertinggi dalam lima terakhir.


Meski begitu, Wells Fargo mengakui bahwa skandal yang pernah mencoreng nama perseroan memberi dampak.

"Ini masalah reputasi yang membuat lebih sulit bagi tim," terang dia.

Kendati bisnis simpanan dan penyaluran kreditnya melambat, Wells Fargo berhasil meraup laba sebesar US$6 miliar atau melesat 33 persen. Peningkatan laba ditopang oleh pemotongan pajak dan upaya memangkas biaya-biaya, seperti biaya non-bunga.

Manajemen berencana akan memangkas biaya-biaya lebih banyak lagi, termasuk lewat cara mengurangi pekerjanya sebanyak 26.500 orang. Hal ini juga dikarenakan alasan munculnya perbankan online. (bir)