ANALISIS

Meikarta, Bumerang Bagi Kerajaan Bisnis Lippo Group

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Jumat, 19/10/2018 17:30 WIB
Meikarta, Bumerang Bagi Kerajaan Bisnis Lippo Group Ilustrasi proyek Meikarta. (ANTARA FOTO/Risky Andrianto).
Jakarta, CNN Indonesia -- Lippo Group boleh menaruh harap pada megaproyek Meikarta. Jor-joran iklan dan promosi terbilang sukses menggemakan nama Meikarta sejak proyek hunian itu meluncur pada 2016.

Nielsen, lembaga riset, mencatat belanja iklan yang dihabiskan untuk Meikarta mencapai Rp1,5 triliun atau paling tinggi dibandingkan merek-merek lainnya di sepanjang tahun lalu.

Maklumlah, proyek garapan PT Mahkota Sentosa Utama (MSU), anak usaha PT Lippo Cikarang Tbk, itu diperkirakan bernilai investasi sebesar Rp278 triliun. Proyek hunian tersebut dicanangkan menjadi alternatif kota mandiri baru di Kabupaten Bekasi.


Namun, ibarat pepatah 'jauh panggang dari api,' Meikarta justru membawa malapetaka bagi kerajaan bisnis Lippo Group. Diawali dengan operasi tangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap manajemen Meikarta dan bupati setempat. Diikuti oleh penahanan Billy Sindoro selaku pejabat Lippo Group.

Dampak sangkutan hukum suap terkait perizinan lahan tak berhenti disitu. Bisnis Lippo Group di lini usaha properti, yaitu Lippo Cikarang (LPCK) dan PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), juga terdampak. Investor disebut akan menarik kepemilikan saham mereka di emiten yang berafiliasi dengan Lippo Group.

"Kasus tersebut kemungkinan akan membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mencermati saham-saham yang kemungkinan besar terkait grup tersebut (Lippo Group)," ujar Analis Mega Capital Indonesia Adrian M Priyatna kepada CNNIndonesia.com, Jumat (19/10).


Lihatlah, pagi ini, sekitar pukul 11.00 WIB, harga saham Lippo Cikarang masih bergerak di zona merah dengan pelemahan 1,88 persen atau 25 poin di level Rp1.305 per saham. Dalam satu pekan terakhir, RTI Infokom menunjukkan harga saham Lippo Cikarang sudah terkoreksi hingga 19,69 persen.

Pelemahan juga dirasakan saham Lippo Karawaci. Beruntung, pelemahannya cuma 0,73 persen sejak dibuka tadi pagi. Saat ini, saham Lippo Karawaci berada di level Rp272 per saham.

"Untuk jangka pendek kemungkinan masih ada tekanan untuk keduanya sampai ada kepastian terkait kasus ini (Meikarta)," jelasnya.


Ironisnya, penurunan harga saham ini akan beriringan dengan nilai kapitalisasinya. Saat ini saja, nilai kapitalisasi saham kedua emiten tak masuk dalam peringkat 10 besar di sektor properti. Data terakhir menyebut nilai kapitalisasi pasar Lippo Cikarang sekitar Rp911,76 miliar, dan Lippo Karawaci sebesar Rp6,27 triliun.

"Untuk Lippo Cikarang penurunannya lebih langsung dan cukup dalam pada Senin (15/10) kemarin, turun 14,77 persen nilai kapitalisasi pasarnya dan besoknya lanjut melemah 13,36 persen," papar Adrian.

Cuan Menjauh

Tak cuma harga saham dan nilai kapitalisasi pasarnya yang terancam, kinerja keuangan lini usaha properti Lippo Group juga berpotensi menjauh dari cuan. Persoalan hukum Meikarta disebut menjadi biang keladi buruknya arus kas perusahaan.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan peristiwa operasi tangkap tangan pejabat pemerintahan dan manajemen Meikarta bakal membuat masyarakat berpikir ulang untuk membeli unit properti di Meikarta. Artinya, penjualan Meikarta terancam melempem.

"Kalau kasusnya menyangkut penyuapan dan perizinan sepertinya memang akan mempengaruhi (arus kas dan keuangan)," katanya.

Meikarta, Bumerang Bagi Kerajaan Bisnis Lippo GroupKinerja laba dan pendapatan Lippo Cikarang dan Lippo Karawaci. (CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi).

Menilik kinerja keuangan Lippo Cikarang dan Lippo Karawaci per kuartal I 2018, pendapatan dan laba bersih masing-masing perusahaan memang menciut.

Laba bersih Lippo Cikarang anjlok 56,29 persen menjadi hanya Rp80,79 miliar dari sebelumnya yang mencapai Rp184,87 miliar. Hal ini dikarenakan pendapatan perusahaan yang turun 28,55 persen dari Rp447,36 miliar menjadi Rp319,63 miliar.

Penurunan kinerja Lippo Karawaci memang tak sedalam Lippo Cikarang. Namun, laba emiten berkode LPKR ini turun 6,9 persen dari Rp142,66 miliar menjadi hanya Rp132,76 miliar pada kuartal I 2018. Pendapatannya pun turun 5,3 persen menjadi Rp2,5 triliun.

"Ke depannya kalau sudah kena kasus otomatis akan negatif, tapi bergantung apakah nanti ada aset yang akan dilepas atau tidak," imbuh William.


(bir)