"Pencapaian pemerintah saat ini dengan angka kemiskinan di bawah 10 persen itu merupakan bagian dari rencana dan realisasi yang sudah diperjuangkan pemimpin sebelumnya," ujar Erani saat menghadiri Seminar Nasional Official Statistics 2018 di Politeknik Statistika Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, Kamis (25/10).
Erani merinci di era kepemimpinan Soekarno (1945-1969), upaya pengentasan kemiskinan dilakukan dengan orientasi pembangunan Orde Lama untuk mewujudkan masyarakat yang adil merata. Caranya dengan melakukan reformasi lahan dan memenuhi kebutuhan pokok rakyat melalui Pembangunan Nasional Berencana Delapan Tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Era Abdurahman Wahid (2000-2001), pemerintah memberikan pelayanan kesehatan dan pendidikan untuk masyarakat miskin, perbaikan lingkungan rumah tinggal, pengembangan budaya usaha masyarakat miskin, hingga kompensasi kenaikan harga BBM di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan angkutan umum.
Pada Era Soesilo Bambang Yudhoyono, pemerintah meluncurkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, Program Keluarga Harapan (PKH), subsidi beras untuk masyarakat miskin (raskin), bantuan siswa miskin (BSM), hingga program Bantuan Langsung Tunai (BLT) maupun Program Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM).
Menurut Erani, program pengentasan kemiskinan di masing-masing pemerintahan keberhasilannya tidak bisa hanya dilihat dari seberapa besar kemampuannya menekan persentase masyarakat miskin. Menurutnya program yang dijalankan oleh pemerintah berjalan sesuai dengan kondisi pada masanya.
"Beberapa kebijakan ini kemudian saling melengkapi dari keseluruhan program pengentasan kemiskinan dari pemerintah sebelumnya," ujarnya.
Implementasi program-program tersebut telah membantu pemerintah menekan angka kemiskinan dari kisaran 60 persen pada 1970 menjadi 9,82 persen pada Maret 2018. Upaya menekan angka kemiskinan ini merupakan perjalanan panjang di mana tren penurunan angka kemiskinan Indonesia sempat terganggu oleh krisis moneter 1997-1998.
Saat itu angka kemiskinan yang sempat berhasil ditekan ke level 14 persen kembali melonjak ke kisaran 27 hingga 28 persen.