RI Incar Ekspor dan Investasi Afrika dan Asia Selatan

CNN Indonesia | Selasa, 30/10/2018 06:35 WIB
RI Incar Ekspor dan Investasi Afrika dan Asia Selatan Pemerintah menyasar negara Afrika dan Asia Selatan untuk memperluas pasar ekspor non-tradisional. (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah menyasar negara-negara di Afrika dan Asia Selatan untuk memperluas pasar ekspor non-tradisional. Selain ekspor, RI juga menjajal peluang investasi ke kawasan tersebut.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong mengungkapkan tekanan perdagangan global terutama perang dagang mempengaruhi investasi di negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor cenderung menahan bahkan menarik investasinya.

Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan ekspansi pada negara-negara yang berpotensi sebagai mitra dalam ekspor maupun investasi.



"Kami segera berinsiatif, langkah-langkahnya bukan hanya penguatan pasar tradisional, pasar non tradisional juga prospektif," kata Lembong di Kantor Bank Ekspor Impor, Senin (29/10).

Lembong memaparkan negara-negara potensial untuk tujuan ekspor maupun menambah investasi ke dalam negeri antara lain, Bangladesh dan Srilanka. Sejalan dengan itu, pemerintah juga mempelajari komoditas Indonesia yang memiliki potensi ekspor ke negara-negara tersebut, salah satunya minyak kelapa sawit (CPO).

Selain CPO, Lembong mengatakan produk tekstil, kayu, dan bubur kertas Indonesia juga berpeluang menembus pasar Afrika dan Asia Selatan. Menurutnya, kebutuhan bubur kertas meningkat seiring pesatnya pertumbuhan pasar perdagangan online.

"Semua membutuhkan kemasan, karena belanja melalui aplikasi pengirimannya perlu kemasan, begitu juga keprihatinan pencemaran plastik, maka orang kembali ke kertas dan kardus," kata Lembong.


Untuk menggenjot ekspor, BKPM menggalang kerja sama dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Kerja sama itu diwujudkan melalui Nota Kesepahaman tentang Kerja Sama Peningkatan Perekonomian Nasional dan Promosi Penanaman Modal.

Direktur Eksekutif LPEI Sinthya Roesly memaparkan kerja sama ini mencakup sepuluh pokok. BKPM dan LPEI sepakat untuk memberikan dukungan terhadap perekonomian nasional, terutama untuk mendorong investasi dan perdagangan internasional.

"Kami juga melakukan pertukaran data dan informasi terkait peningkatan ekspor Indonesia seperti business intelligence, serta potensi penanaman modal dan pengusaha potensial di dalam dan di luar negeri, dengan tetap memperhatikan peraturan perundang-undangan," katanya.


Ia melanjutkan, BKPM dan LPEI akan membangun sinergitas dalam mengatasi hambatan investasi dan ekspor yang dihadapi oleh para pelaku usaha serta sinergi dalam penelitian yang tidak terbatas pada penetrasi tujuan ekspor baru.

Selanjutnya, BPPM dan LPEI akan melakukan kerja sama luar negeri bersama dengan representasi BKPM di luar negeri maupun dengan lembaga-lembaga lainnya untuk mengatasi hambatan investasi atau hambatan berusaha.

Lalu, kerja sama dalam penyusunan dan pengadaan informasi terkait sumber potensi kerja sama bagi investor dalam mencari mitra kerja sama di dalam negeri. Keduanya juga sepakat untuk memberikan informasi perkembangan kondisi usaha serta investasi baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

"Kami juga bersinergi dalam melakukan joint marketing effort untuk meningkatkan inward dan outward investment dalam rangka peningkatan ekspor nasional dan peningkatan kapasitas sumber daya," ujarnya Sinthya.


Untuk informasi, realisasi investasi semester I 2018 sebesar Rp361,6 triliun. Realisasi itu tumbuh 7,4 persen dibanding realisasi di semester I 2017 sebesar Rp336,7 triliun.

Namun, secara kumulatif semester I-2018 realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) turun 1,1 persen dari Rp206,9 triliun di semester I 2017 menjadi Rp204,6 triliun. Sementara realisasi Penanaman Modal Dalam negeri (PMDN) naik 21 persen dari Rp129,8 triliun menjadi Rp157 triliun. (ulf/lav)