Korporasi di ASEAN Paling Optimistis di Tengah Perang Dagang

CNN Indonesia | Selasa, 06/11/2018 13:04 WIB
Korporasi di ASEAN Paling Optimistis di Tengah Perang Dagang HSBC Global melaporkan sebanyak 88 persen perusahaan ASEAN memiliki optimisme dalam prospek perdagangan luar negeri. (REUTERS/Kevin Coombs).
Jakarta, CNN Indonesia --
Perusahaan di Asia Tenggara disebut-sebut memiliki tingkat optimisme tertinggi dan paling menjanjikan di dunia, terutama dalam prospek perdagangan dan aktivitas komersial.

Dalam hasil laporan HSBC Global terungkap, sebanyak 88 persen perusahaan ASEAN memiliki optimisme dalam prospek perdagangan luar negeri. Persentase itu lebih tinggi dibanding blok perdagangan kawasan lain, dan lebih tinggi dari rata-rata optimisme perusahaan global yang hanya sebesar 77 persen.

Presiden Direktur PT Bank HSBC Indonesia Sumit Dutta menilai laporan ini dapat mendukung prospek bisnis di ASEAN dan menjadi indikator dari peningkatan proteksionisme negara-negara di masa mendatang.



"Hal itu menimbulkan pertanyaan apakah mereka meremehkan risiko perdagangan akibat meningkatnya proteksionisme atau mencoba melihat peluang di tengah konflik perdagangan. Apapun itu, rantai suplai akan beralih ke ASEAN dan perusahaan harus siap," jelasnya dalam siaran pers, Senin (5/11).

Jelas saja, perang dagang antara AS dengan China menjadi salah satu contoh tingginya proteksionisme dalam perdagangan internasional. Namun, laporan tersebut memaparkan kebijakan kenaikan tarif impor kedua negara justru turut membuka peluang bagi pasar ASEAN untuk meningkatkan ekspor.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) pernah memperkirakan ekspor komoditas baja hingga buah-buahan di Indonesia dapat meningkat jika perang dagang antara dua negara raksasa itu terus berlangsung. Pasalnya, kedua negara akan saling mencari sumber impor baru demi kelangsungan industri di dalam negeri.


"Indonesia bisa mengambil posisi untuk memanfaatkan peluang barang-barang yang saling terhambat untuk masuk ke masing-masing negara," kata Kepala Badang Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BPPP) Kemendag Kasan, beberapa waktu lalu.

Mengacu pada data Kemendag, dalam periode Januari-Agustus 2018, AS dan China masih menduduki puncak negara tujuan ekspor dari Indonesia.

China mengalami peningkatan jumlah ekspor hingga 30,63 persen dari US$12,71 miliar di tahun 2017 menjadi US$16,59 miliar di 2018. Sedangkan, ekspor Indonesia ke AS meningkat 3,08 persen dari US$11,36 miliar di 2017 menjadi US$11,71 miliar.

Jika dilihat secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia ke China berperan 15,27 persen dan ke AS berperan 10,78 persen dari total jumlah ekspor Indonesia pada periode itu.


Teknologi Jadi Prioritas

Menurut HSBC navigator, sebanyak 38 persen responden di ASEAN mengaku berfokus pada peningkatan adopsi konsep digital dan teknologi dalam bisnis mereka. Selain itu, 34 persen responden ASEAN juga melakukan peningkatan dalam penggunaan teknologi menjadi rencana utama dalam perubahan dalam tiga tahun ke depan, persentase itu lebih tinggi dari rata-rata responden global yang hanya 27 persen.

"Teknologi akan menjadi benang merah di antara pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari akan menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing dan daya tarik," Imbuh Dutta.

(mjs/lav)