Riset INDEF: Transfer Daerah Bikin Ketimpangan Melebar

CNN Indonesia | Kamis, 08/11/2018 06:48 WIB
Riset INDEF: Transfer Daerah Bikin Ketimpangan Melebar Ilustrasi ketimpangan ekonomi. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hasil riset Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyebut dana transfer ke daerah memiliki korelasi positif dengan ketimpangan. Ini berarti, semakin tinggi dana transfer ke daerah, maka indeks gini ratio atau ketimpangan justru semakin melebar.

Studi Indef dilakukan sejak 2006 - 2016 di 23 provinsi. Dalam periode tersebut Indonesia sudah memberlakukan otonomi daerah. Dana transfer sendiri merupakan salah satu program unggulan.

Pada tahun pertama studi dilakukan, indeks gini berada di posisi 0,35. Tren indeks gini terus meningkat hingga puncaknya pada 2011 mencapai 0,41. Sejak 2015, indeks mulai menurun sehingga di akhir studi pada September 2016 tercatat sebesar 0,39.


Sebagai catatan, semakin menjauh indeks gini dari angka 0, maka semakin lebar ketimpangan pendapatan antara si kaya dan si miskin di suatu negara.

Adapun dana transfer ke daerah meningkat setiap tahunnya. Tahun 2016, realisasinya mencapai Rp663,6 triliun.


Peneliti Indef Rusli Abdullah menuturkan jika dana transfer dirinci menjadi Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK), maka terdapat perbedaan hubungan antara DAU dan DAK dengan indeks gini. Dana alokasi umum secara statistik memiliki korelasi positif dengan indeks gini pada tingkat signifikasi p-value 0,02 dengan koefisien korelasi 0,0126.

"Artinya 1 persen kenaikan DAU justru memperlebar ketimpangan sebesar 0,01 persen," jelas Rusli di Jakarta, Rabu (7/11).

Berdasarkan hasil temuan, lanjut Rusli, lebih dari setengah kenaikan alokasi DAU yang seharusnya digunakan untuk peningkatan layanan masyarakat justru digunakan untuk biaya belanja rutin seperti belanja pegawai pemerintah.

"Kondisi ini menyebabkan belanja-belanja pelayanan dasar tidak optimal," ujarnya.


Di sisi lain, setiap 1 persen kenaikan DAK berkontribusi pada penurunan indeks gini sebesar 0,01 poin. Hasil tersebut menunjukkan bahwa formulasi dana transfer yang selama ini lebih besar untuk DAU tidak efektif mempersempit ketimpangan dibanding DAK.

Rusli menduga hasil tersebut disebabkan penggunaan dana alokasi khusus diarahkan untuk kebutuhan pelayanan dasar dan pelayanan umum.

"Ada DAK untuk kesehatan dan pendidikan sehingga penggunannya langsung jelas dan sesuai dengan prioritas nasional. Sehingga mungkin lebih efektif dan berkorelasi negatif dengan indeks gini, Beda dengan DAU yang sifatnya lebih spending rutin," jelas Rusli.

Perbedaan ini menunjukkan dana yang pengelolannya untuk prioritas nasional dan memiliki ketentuan dari pusat berkontribusi kepada penurunan indeks gini. Sebaliknya, dana alokasi umum yang penggunannya tidak diatur dari pusat tidak berkontribusi pada penurunan ketimpangan. (ulf/agi)