Kemenperin Dorong Industri Pulp dan Kertas Semakin 'Hijau'

CNN Indonesia | Senin, 12/11/2018 06:46 WIB
Kemenperin Dorong Industri Pulp dan Kertas Semakin 'Hijau' Ilustrasi industri pulp dan kertas. (ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pelaku industri bubur kertas (pulp) dan kertas terus menggunakan teknologi terkini yang ramah lingkungan untuk memastikan keberlanjutan sumber daya. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global dan sejalan dengan implementasi Making Indonesia 4.0.

"Proses produksi di industri mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan sumber daya secara berkelanjutan, sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (11/11).

Ngakan mengungkap saat ini Indonesia berada di peringkat ke-9 produsen pulp terbesar di dunia serta posisi ke-6 produsen kertas terbesar di dunia. Jumlah perusahaan pulp dan kertas di seluruh dunia yang tercatat ada 84 perusahaan.


Berdasarkan kebijakan industri nasional, lanjut Ngakan, industri pulp dan kertas merupakan salah satu sektor yang mendapat prioritas dalam pengembangannya. Pasalnya, Indonesia memiliki potensi terkait bahan baku. Dalam hal ini, produktivitas tanaman di Indonesia jauh lebih tinggi dibanding negara pesaing yang beriklim subtropis.

Selain itu, industri pulp dan kertas memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional mengingat merupakan sektor padat karya dan berorientasi ekspor.

Berdasarkan data ekspor, industri kertas berhasil menduduki peringkat pertama dan industri pulp peringkat ketiga untuk ekspor produk kehutanan selama 2011-2017.

Pada 2017, kedua industri tersebut menyumbang ke devisa negara sebesar US$5,8 miliar, yang berasal dari kegiatan ekspor pulp sebesar US$2,2 miliar ke beberapa negara tujuan utama yaitu China, Korea, India, Banglades, dan Jepang.

Sementara, ekspor kertas tercatat sebesar US$3,6 miliar ke Jepang, Amerika Serikat, Malaysia, Vietnam, dan China.

"Industri pulp dan kertas juga menyerap sebanyak 260 ribu tenaga kerja langsung dan 1,1 juta tenaga kerja tidak langsung," imbuh Ngakan.

Guna mendongkrak kemampuan industri pulp dan kertas nasional, Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) di Bandung, sebagai salah satu lembaga riset di bawah BPPI Kemenperin, telah berperan aktif mengembangkan standar hijau.

Pada 6-8 November 2018 lalu, BBPK Bandung menggelar 3rd International Symposium on Resource Efficiency in Pulp and Paper Technology (3rd REPTech). Simposium internasional ini bertujuan mempromosikan dan menyebarluaskan inovasi hasil penelitian dan pengembangan (litbang) serta pengembangan teknologi berwawasan lingkungan dalam pengelolaan industri pulp dan kertas.

Kegiatan tersebut dihadiri 250 peserta berlatar belakang kalangan industri, peneliti, praktisi, serta tenaga ahli profesional di bidang pulp dan kertas, baik dari dalam maupun luar negeri.

Selain dari Indonesia, pembicara berasal dari negara Jepang, Korea, Australia, dan Malaysia. Materi yang disampaikan antara lain mengenai teknologi sumber serat non kayu, teknologi daur ulang kertas, dan sistem produksi berkelanjutan industri pulp dan kertas, serta penerapan industri 4.0.

Simposium ini juga bertujuan melakukan pertukaran informasi terbaru tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pulp dan kertas, serta memperluas jejaring kerja sama litbang dengan mempertemukan tokoh-tokoh penting di bidang riset dari perguruan tinggi, instansi, asosiasi, dan lembaga riset yang berada di dalam maupun luar negeri. (sfr/fea)