Emiten Ritel Cetak Laba Kinclong Meski Tertekan Nilai Tukar

CNN Indonesia | Minggu, 18/11/2018 08:20 WIB
Emiten Ritel Cetak Laba Kinclong Meski Tertekan Nilai Tukar Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kinerja keuangan lima perusahaan sektor ritel hingga kuartal III 2018 tercatat memuaskan dengan rerata pertumbuhan laba bersih mencapai 88,8 persen. Hal itu dicapai di tengah bayang-bayang sentimen negatif pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) beberapa bulan terakhir.

Berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan pada Bursa Efek Indonesia (BEI), Perusahaan ritel kebutuhan harian mengantongi pertumbuhan keuntungan hingga dua kali lipat, sementara perusahaan ritel pakaian justru mengalami penurunan laba.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji menyebut selain depresiasi rupiah, sektor ritel juga menghadapi tantangan dari penurunan tingkat inflasi dalam tiga bulan terakhir yang disebut sebagai representasi penurunan daya beli.


"Rata-rata (kinerja keuangan sektor ritel) masih sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar," kata Nafan kepada CNNIndonesia.com, Jumat (16/11).


PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk meraih laba bersih paling kinclong. Pengelola jaringan ritel Alfamart ini membukukan kenaikan laba hingga 244,44 persen menjadi Rp335,16 miliar dari sebelumnya Rp97,30 miliar.

Laba perusahaan dengan kode AMRT ini tidak lepas dari pertumbuhan pendapatan sebesar 8,77 persen, semula Rp45,60 triliun menjadi Rp49,60 triliun. Kenaikan laba lebih dari 100 persen juga berhasil diraih oleh PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI).

Laba pengelola merek Starbucks, Zara, dan Sogo ini meroket 124,41 persen dari Rp248,49 miliar menjadi Rp557,67 miliar. Pendapatan perusahaan dengan kode saham MAPI ini hanya tumbuh 18,34 persen menjadi Rp13,82 triliun dari sebelumnya Rp11,68 triliun.

Lebih lanjut, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) meraih laba bersih Rp527,27 miliar, tumbuh 43,35 persen dari sebelumnya Rp367,79 miliar. Sementara pendapatan perseroan naik tipis 2,23 persen dari Rp4,41 triliun menjadi Rp4,51 triliun.

Emiten Ritel Masih Cetak Laba di Tengah Pelemahan RupiahKinerja keuangan emiten ritel. (CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi).

Sementara itu, PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) membukukan kenaikan laba 32,46 persen dari Rp526,46 miliar menjadi Rp697,37 miliar. ACES juga mengantongi kenaikan pendapatan 22,27 persen menjadi Rp5,16 triliun dari sebelumnya Rp4,22 triliun.

Hanya PT Matahari Department Store Tbk yang mengalami penurunan laba bersih 0,61 persen dari Rp1,50 triliun menjadi Rp1,49 trilun. Namun, pendapatan perseroan tumbuh 3,05 persen menjadi Rp7,77 triliun dari periode sebelumnya Rp7,54 triliun.

Analis Indosurya Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan penurunan laba Matahari disebabkan efisien perusahaan melalui penutupan beberapa gerai. "Selain itu, demand (permintaan) di market secara seasonal (musiman) tidak terlau banyak, dalam artian peiode Lebaran sudah lewat, itu yang cukup memberikan pengaruh," kata William kepada CNNIndonesia.com.

Di sisi lain, lanjut William, kenaikan laba dan pendapatan Mitra Adiperkasa ditopang oleh target pasar yang menyasar golongan menengah ke atas. Daya beli pada kelompok ini cenderung stabil di bawah tekanan pelemahan nilai tukar rupiah dan pelambatan daya beli.

Di samping itu, golongan menengah ke atas tersebut memiliki kemauan untuk membeli produk-produk fesyen terbaru. "Banyak sekali fesyen yang bertambah dari baju hingga sneaker sehingga cukup menguntungkan Mitra Adi Perkasa," ujar William.

Pengamat pasar modal Gina Novrina menuturkan melonjaknya kinerja Alfaria ditopang dengan pembukaan jaringan baru di tempat-tempat strategis dan inovasi penjualan lewat online. "Mereka juga dibantu dengan kerja sama penjualan online sehingga penjualan tidak hanya ritel tapi dari online," kata Gina.

Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Kevin Juido menjelaskan kenaikan laba pengelola pusat belanja Ramayana ditopang penurunan Cost of Goods Sold (COGS) atau Harga Pokok Penjualan (HPP) sebesar 6,4 persen secara tahunan menjadi Rp2,51 triliun.

Efisien beban biaya pokok ini disebabkan penurunan dari sisi persediaan barang yang dijual menjadi Rp3,3 triliun di kuartal III 2018 dari periode sebelumnya Rp3,4 triliun.


"Karena dia pintar menjaga COGS sehingga turun, sangat membantu. Sebab, kalau kami komparasi biaya besar ada di COGS bobotnya 62 persen kedua biaya administrasi itu 28 persen," jelas Kevin.

Kevin bilang pertumbuhan laba perusahaan dengan kode saham ACES itu ditopang dari efisien biaya operasional, misalnya gaji. Efisiensi ini menunjang pertumbuhan pendapatan mencapai double digit.

Prospek Akhir Tahun

Faktor musiman seperti Natal dan tahun baru pada triwulan IV menjadi peluang emas bagi sektor ritel. Dengan peluang itu, Kevin meyakini prospek sektor ritel makin kinclong pada triwulan IV 2018. "Peluang di akhir tahun akan lebih baik bagi sektor ritel," ujar Kevin.

Pendapat yang sama disampaikan oleh Nafan. Menurutnya, konsumsi masyarakat berpotensi tumbuh pada triwulan IV 2018, lantaran ada belanja untuk Natal dan tahun baru. "Periode Natal dan tahun baru meningkatkan intensitas belanja dan konsumsi masyarakat sehingga meningkatkan kinerja sektor ritel," ujar Nafan.


Dalam jangka pendek, Kevin merekomendasikan beli untuk saham RALS pada target harga Rp1.550. Pada penutupan perdagangan Jumat (16/11) saham RALS ditutup naik 10 poin atau 0,76 persen di level Rp1.330 per saham. Sebaliknya, Kevin merekomendasikan jual bagi pelaku pasar untuk saham ACES lantaran harganya sudah melebih target yaitu Rp1.450 per saham. Saham ACES ditutup naik 65 poin atau 4,58 persen ke level Rp1.485.

Sementara itu, Nafan memprediksi saham MAPI akan bergerak di rentang Rp790-Rp830 per saham dalam jangka pendek. Pada penutupan perdagangan saham MAPI ditutup stagnan di posisi Rp805 per saham.

Untuk saham AMRT Nafan memprediksi akan bergerak di rentang Rp750-Rp835 per saham. Saham AMRT ditutup stagnan di posisi Rp780 per saham pada perdagangan hari ini.

Lalu, lanjut Nafan, saham LPPF diperkirakan akan mengalami tren pelemahan dengan target harga Rp3.450 per saham dalam jangka pendek. Pada penutupan perdagangan, saham LPPF ditutup stagnan di posisi Rp4.500 per saham.

(ulf/lav)