Kementerian BUMN akan Bentuk Tim Privatisasi Merpati

CNN Indonesia | Jumat, 23/11/2018 18:23 WIB
Kementerian BUMN akan Bentuk Tim Privatisasi Merpati Ilustrasi. (Dekoelie via wikimedia commons (CC-BY-SA-3.0))
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyatakan bakal segera membentuk tim privatisasi untuk menentukan nasib PT Merpati Nusantara Airlines (Persero). Dengan pembentukan tim ini berarti, pemerintah masih dalam rencana awal, melakukan privatisasi Merpati.

Walau akan melakukan privatisasi, Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro mengatakan pemerintah belum menentukan jumlah saham yang akan dilepas ke pihak swasta. Saat ini, pemerintah masih membuka pintu untuk investor strategis.

"Yang menentukan (berapa jumlah saham yang dilepas) itu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Jadi kami belum bicara soal berapa saham dan strukturnya seperti apa," ucap Aloysius, Jumat (23/11).


Namun, Aloysius menyebut tak menutup kemungkinan jika pemerintah melepas 100 persen saham di Merpati Nusantara Airlines jika investor strategis yang berminat menyanggupi untuk membeli seluruh saham pemerintah. Namun, seperti pada pernyataan sebelumnya, Kementerian BUMN masih dalam proses mempelajari putusan Pengadilan Niaga Surabaya pada Rabu (14/11) kemarin.


"Kami pelajari homologasinya," imbuh Aloysius.

Sekadar mengingatkan, Kementerian BUMN sempat mengusulkan untuk melepas saham di Merpati Nusantara Airlines hingga 100 persen pada dua tahun lalu. Sayangnya, tak ada satupun investor strategis yang berminat kala itu, sehingga rencana privatisasi terpaksa urung dilakukan.

Tapi, kini Merpati disebut-sebut sudah mendapatkan investor. PT Intra Asia Corpora disebut-sebut akan menyuntikkan dana Rp6,4 triliun agar maskapai tersebut bisa mengudara lagi. 

Sayangnya, bila dibandingkan dengan jumlah utang Merpati Nusantara Airlines saat ini yang mencapai Rp10,72 triliun, jumlah suntikan dana dari Intra Asia Corpora tentu tak bisa menutup seluruh utang perusahaan maskapai tersebut. Sebab, masih ada selisih Rp4,32 triliun untuk melunasi utang Merpati Nusantara Airlines kepada kreditur.

"(Untuk investor Intra Asia Corpora) itu kami rundingkan dulu, kami harus lihat kemampuannya," jelas Aloysius.

(aud/agt)