Rupiah Rp14.488 per Dolar AS, Mata Uang Asia Kompak Melemah

CNN Indonesia | Selasa, 27/11/2018 08:51 WIB
Rupiah Rp14.488 per Dolar AS, Mata Uang Asia Kompak Melemah Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.488 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot pagi ini, Selasa (27/11). Posisi ini melemah 12 poin atau 0,9 persen dari kemarin sore, Senin (26/11) di Rp14.476 per dolar AS.

Seperti halnya rupiah yang berbalik melemah, setelah kemarin menguat, beberapa mata uang di kawasan Asia juga berpindah ke zona merah. Peso Filipina melemah 0,32 persen, ringgit Malaysia minus 0,16 persen, won Korea Selatan minus 0,12 persen, dolar Singapura minus 0,02 persen, dan baht Thailand minus 0,02 persen.

Hanya dolar Hong Kong dan yen Jepang yang bertahan di zona hijau, masing-masing menguat 0,03 persen dan 0,1 persen.



Di sisi lain, nilai tukar beberapa mata uang utama negara maju masih kokoh menguat dari dolar AS, seperti rubel Rusia menguat 0,12 persen, euro Eropa 0,05 persen, dan poundsterling Inggris 0,03 persen.

Namun, franc Swiss stagnan. Sedangkan dolar Australia dan dolar Kanada kompak melemah 0,01 persen dari mata uang Negeri Paman Sam.

Kendati melemah, Analis CSA Research Institute Reza Priyambada memperkirakan mata uang Garuda akan kembali menguat pada sore nanti karena sentimen positif dari penerimaan proposal keluarnya Inggris dari zona Eropa (Britania Exit/Brexit) sejatinya masih akan berlanjut.


Pada saat yang bersamaan, pemerintah Italia akhirnya rela mengalah dari Komisi Eropa untuk kembali meninjau defisit anggaran mereka. Kedua faktor tersebut diperkirakan masih akan membuat euro Eropa dan poundsterling Inggris menguat dan melemahkan dolar AS.

Sentimen internal dari AS nampaknya belum akan signifikan, sehingga masih mata uang Negeri Paman Sam berpotensi bergerak terbatas.

"Rupiah akan kembali melanjutkan penguatan dengan memanfaatkan berbalik naiknya euro Eropa," ujar Reza, Selasa (27/11).


Sentimen eksternal itu, katanya, bahkan menutup kekhawatiran pelaku pasar akan pembengkakan alokasi subsidi energi pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018. Alokasi subsidi diperkirakan bakal melesat hingga Rp150 triliun dari asumsi awal Rp94,6 triliun.

"Tapi tampaknya hal ini tidak terlalu direspons negatif oleh pelaku pasar," pungkasnya. (uli/lav)