Pertamina Alokasikan Belanja Modal Rp82 T di Tahun Depan

CNN Indonesia | Kamis, 29/11/2018 17:28 WIB
Pertamina Alokasikan Belanja Modal Rp82 T di Tahun Depan SPBU Pertamina. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Pertamina (Persero) menganggarkan belanja modal pada tahun depan sebanyak US$5,5 miliar atau sekitar Rp82,5 triliun (asumsi kurs pemerintah RAPBN 2019 Rp15 ribu per dolar AS). Angka ini meningkat 37,5 persen dibanding proyeksi realisasi tahun ini yang diperkirakan mencapai US$4 miliar.

Direktur Keuangan Pertamina Pahala Mansury merinci separuh atau 50 persen dari belanja modal itu digunakan untuk kegiatan hulu migas, 25 persen di hilir migas, dan 25 persen untuk pengembangan infrastruktur logistik. Belanja modal tersebut juga termasuk keinginan Pertamina untuk masuk ke bisnis hilirisasi batu bara.

Rencananya, Pertamina akan membangun satu proyek hilirisasi batu bara yakni proyek hilirisasi batu bara dalam bentuk Dimethyl Ether (DME) di Peranap, Sumatera Selatan. DME sendiri diharapkan bisa menjadi pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG/Elpiji), di mana investasi ini bekerja sama dengan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan akan dimulai awal tahun depan.


"Jadi belanja modal yang kami sediakan sekitar US$5,5 miliar ini untuk semuanya, dari hulu ke hilir," kata Pahala, Rabu (28/11).


Ia menuturkan, belanja modal ini juga mencakup pengembangan kilang yang dilakukan Pertamina. Saat ini, Pertamina tengah melakukan perbaikan kapasitas dan kompleksitas kilang (Refinery Development Master Plan/RDMP) di empat kilang yakni Cilacap, Balikpapan, Balongan, dan Dumai. Selain itu, Pertamina juga mengembangkan dua kilang baru, yakni Bontang dan Tuban.

Pengeluaran untuk kilang tahun depan akan lebih banyak karena proyek RDMP Balikpapan memasuki tahapan pengadaan dan konstruksi (Engineering, Procurement, and Construction/EPC). Selain itu, proyek RDMP di kilang Cilacap yang bekerja sama dengan Saudi Aramco juga sudah memasuki pembebasan lahan (land clearing) tahun depan.

Sementara itu, kilang Plaju dan Dumai akan segera dikonversi peruntukannya untuk memproduksi BBM yang murni diproduksi dari minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO). Rencananya, kedua kilang itu akan diarahkan untuk memproduksi diesel murni dari CPO (green diesel) dan green avtur.

"Belanja modal ini juga termasuk ekspansi refinery. Makanya belanja modal tahun depan juga naik," kata dia.

Ia menuturkan, realisasi belanja modal hingga akhir tahun ini akan lebih kecil dari Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) 2018 US$5,59 miliar. Ada kemungkinan, belanja modal tahun ini hanya di sekitar US$3,5 miliar hingga US$4 miliar saja.


Ini lantaran tekanan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap AS sepanjang tahun ini, sehingga ada beberapa proyek tertunda. Namun, ia tidak menyebut beberapa proyek yang dimaksud.

"Karena ada kesempatan untuk melakukan pengembangan dan lain sebagainya mungkin memang belum (terlaksana)," kata dia.

Global Bond

Dalam kesempatan yang sama, Pahala juga mengatakan bahwa perseroan telah mengamankan pendanaan sebesar US$750 juta dari penerbitan global bond yang diterbitkan awal bulan ini. Global bond tersebut memiliki tenor 30 tahun dan berkupon 6,5 persen, yang rencananya digunakan untuk berbagai kegiatan (general purpose).

Namun, salah satu penggunaan dana global bond tersebut adalah demi membayar bonus tandatangan (signature bonus) pengelolaan Blok Rokan yang rencananya akan dikelola Pertamina mulai 2021 mendatang. Adapun, nilai signature bonus yang perlu dibayar Pertamina untuk meraih Blok Rokan dari PT Chevron Pacific Indonesia adalah US$748 juta.

"Bisa buat itu (Blok Rokan), namun bisa juga buat kegunaan lain. Selain ini, belum ada lagi penerbitan global bond," ucapnya. (glh/agi)