212 Mart, Buah Manis dari Aksi Protes Ucapan Al Maidah Ahok

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Minggu, 02/12/2018 10:11 WIB
212 Mart, Buah Manis dari Aksi Protes Ucapan Al Maidah Ahok Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Berawal dari aksi 212 pada Desember 2016 silam, para perintisnya kemudian resmi mendirikan Koperasi Syariah sebulan setelahnya, yakni pada Januari 2017.

Meski banyak yang awalnya meragukan, 212 Mart nyatanya membuktikan mampu bertahan dan tumbuh meski dibangun saat kondisi daya beli masyarakat lesu. Baru 1,5 tahun berjalan, 212 Mart kini memiliki 207 gerai yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Aksi 212 pada 2016 dipicu oleh ucapan Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok soal Al Maidah. Ucapan itu akhirnya menimbulkan gelombang protes yang dikenal dengan Aksi Bela Islam pada 2016 lalu. Ahok akhirnya divonis penjara karena terbukti melakukan penodaan agama.


Sekretaris Umum Koperasi Syariah 212 Irfan Syauqi Beik mengungkapkan gerai-gerai 212 Mart kini sudah tersebar di Jabodetabek, Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi. Tahun depan, menurut Irfan, pihaknya bahkan ingin membuka tambahan 100 gerai lagi.


"Mayoritas gerai kami kini hampir separuhnya ada di Jabodetabek, Jawa, dan dari sisi perkembangan sudah tersebar di berbagai tempat. Ini menunjukkan animo masyarakat mengembangkan gerai 212 Mart cukup tinggi," jelas Irfan kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (1/12).

Tak hanya membangun gerai baru, pihaknya juga ingin mengembangkan bisnis Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) bekerja sama dengan mitra usaha.

"Dari segi pengembangan bisnis, 212 Mart tidak akan berhenti. Kami akan kembangkan beberapa bisnis yang sekarang masih dalam proses," jelas dia.


Irfan menjelaskan kekuatan bisnis ekspansi 212 Mart terletak dari anggota koperasi yang kian meroket. Saat ini, anggota Koperasi Syariah 212 sudah menyentuh 50 ribu orang dan diharapkan bisa mencapai 60 ribu hingga 70 ribu orang hingga akhir tahun mendatang.

Kontribusi anggota dianggap cukup mumpuni sebagai belanja modal 212 Mart. Bahkan, dana untuk membuka 207 gerai sejauh ini berasal dari iuran anggota yang mencapai Rp200 miliar. Hanya saja, ia tak menyebut target jumlah kenaikan anggota koperasi untuk tahun depan.

Saat ini, menurut dia, 212 Mart secara langsung telah menyerap sekitar 2 ribu tenaga kerja. Tak hanya itu, Irfan menjelaskan pihaknya juga turut membantu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk berkembang.


Salah satunya dengan mengharuskan setiap gerainya untuk memajang produk UMKM. Saat ini, porsi produk UMKM terhadap seluruh produk yang dijual di 212 Mart bervariasi, antara 5 persen hingga 40 persen.

Irfan mencontohkan, saat ini 212 Mart tengah bekerja sama dengan sejumlah komunitas di Batam, Kepulauan Riau untuk mengembangkan 26 produk. Selain itu, terdapat pula komunitas di Bogor yang mengembangkan bisnis roti dengan nama Syar'i Roti.

"Prinsipnya jangan sampai usaha setempat mati. Justru kami dorong penjualan mereka, asal jaga kualitas. Kami juga berharap ini bisa sinambung, dengan artian produk komunitas di dekat 212 Mart beroperasi bisa terus menyuplai produk. Akan lebih bagus jika bisa menyuplai ke seluruh gerai 212 Mart, agar secara biaya produksi lebih efisien," imbuh dia.


Strategi Bisnis

Meski tengah semangat-semangat membangun gerai, Irfan mengaku lesunya industri ritel belakangan ini tetap menjadi perhatian 212 Mart.

Berkaca pada kinerja sejumlah perusahaan ritel di Bursa Efek Indonesia, nasib mujur belum sepenuhnya berada di tangan industri ritel, meski beberapa di antaranya sudah mencatatkan kenaikan laba yang signifikan.

PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) misalnya, membukukan pertumbuhan laba hingga 244,44 persen hingga September kemarin. Begitu pun dengan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (Indomart) yang nencatatkan kenaikan laba sebesar 168 persen. Kenaikan laba signifikan kedua perusahaan ritel tersebut sebenarnya mengkompensasi penurunan laba yang sempat terjadi pada tahun lalu.

Meski demikian, masih terdapat PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) yang membawahi Hypermart, mencatatkan kerugian mencapai Rp335 miliar.


Penurunan kinerja keuangan tentu tak ingin dialami oleh Koperasi Syariah 212. Untuk itu terdapat beberapa strategi yang tengah dijalankan oleh 212 Mart.

Pertama, setiap anggota diwajibkan untuk memiliki komitmen belanja. Jangan sampai, komunitas tidak punya minat belanja di koperasinya sendiri. Kedua, memperkuat sistem distribusi barang, sehingga harga produk yang ditawarkan bisa bersaing.

Ketiga, melakukan diversifikasi bisnis agar 212 Mart tak hanya sekadar menyediakan barang, tetapi juga menyediakan produk jasa. Rencananya, dalam waktu dekat, 212 Mart akan mengembangkan sistem informasi dan teknologi agar bisa merambah bisnis travel, seperti penjualan tiket pesawat terbang dan kereta api.

"Untung rugi di dalam bisnis ini sudah biasa, dan tentu kondisi yang ada harus direspons dengan baik," pungkas Irfan. (agi)