Ketika Sampah Menjadi Sumber Penghasilan Masyarakat

Advertorial, CNN Indonesia | Sabtu, 08/12/2018 00:00 WIB
Ketika Sampah Menjadi Sumber Penghasilan Masyarakat
Jakarta, CNN Indonesia -- Program Infrastruktur Berbasis Masyarakat (IBM) yang diinisiasi oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia (KemenPUPR) memang bertujuan untukmendorong terciptanya perubahan perilaku hidup bersih dan sehat.

Namun siapa sangka, dengan kehadiran Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas) dan Tempat Pengelolaan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R)justru turut memberikan manfaat lain, yakni mendorong terciptanya sektor-sektor produktif yang bernilai ekonomi.

Contohnya seperti TPS3R di Kota Bogor, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM)  Rangga Mekar mampu mendukung kegiatan usaha pertanian warga. Sampah yang telah dikumpulkan kemudian dijadikan biogas hingga pupuk padat dan cair.


Kelompok Taruna Tani di Bogor pun memanfaatkan lahan tidur sebagai tempat bercocok tanam serta sebagai hasil uji kualitas pupuk. Hasilnya, berbagai tanaman sayuran hingga tanaman obat keluarga tumbuh subur di lahan ini.

Hasil panen dari tanaman bisa dibeli langsung secara tunai atau dibeli melalui bank sampah di bawah Rumah Kreatif Nusantara dengan menukarkan sampah anorganik, berapapun jumlahnya.

Bahkan sampah anorganik dapat diolah menjadi kerajinan tangan yang cantik dengan sentuhan kreativitas seperti tas dan pot tanaman yang bernilai. Hasil kerajinan tersebut juga dapat dilihat di pameran atau secara langsung di Rumah Kreatif Nusantara.

Selain menciptakan suatu bisnis, kegiatan penglolaan sampah di TPS3R ini juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Ada sebagian pengelola sampah yang merupakan pemuda yang dulunya berprofesi sebagai pengamen jalanan.

"Yang uniknya itu anak muda, kami libatkan dalam pengelolaan sampah ini. Tadinya mereka adalah pengamen anak jalanan yang sering nongkrong. Namun kami ajak untuk mengelola sampah. Dari 7 orang sekarang sudah 47 orang. Sekitar 17 orang sudah kami sekolahkan kejar paket A," ungkap Ketua KSM Rangga Mekar, Heri Heriyanto.

Sementara di Desa Sidorejo, Kabupaten Temanggung, masyarakat mendapatkan keuntungan dari kehadiran Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpadu (SPALD-T). Sistem pengelolaan ini membuat aliran air dan drainase desa menjadi bersih dan lancar sehingga dapat digunakan untuk mengembangkan usaha perikanan.

"Sebelum ada program Sanimas, daerah ini memang boleh dikatakan daerah kumuh, daerah yang belum tertata. Sehingga terkait BAB atau pembuangan limbah semuanya belum bisa diatur, banyak genangan-genangan air yang belum terurus. Nah di sini lah keresahan-keresahan timbul karena menjadi bau dan tidak tersalur dengan rapi dan adanya warga yang terkena demam berdarah," ujar Kepala Desa Sidorejo, Bambang S.

Uniknya, pengaliran air bersih berkat SPALD-T dimanfaatkan warga untuk memiliki kolam ikan. Modal awal kolam ikan hanya diisi 50 kg bibit ikan nila. Setelah 6 bulan, mereka mampu memanen hampir 400 kg ikan nila.

Sementara itu, para ibu-ibu di Desa Sidorejo memiliki kegiatan produktif dengan membuat rumah bakteri dari bekas botol plastik. Rumah bakteri ini dijual ke berbagai program SPALD-T yang masih dalam proses konstruksi.

Bahkan sejak ada program Sanimas, warga Desa Sidorejo tidak ada lagi yang terkena wabah demam berdarah. Sebab, desa menjadi lebih bersih, bebas dari genangan limbah air, dan tentunya bebas aroma yang tidak sedap.

Serupa dengan yang terjadi di KSM Kampung Asri Kabupaten Boyolali. Masyarakat telah mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang cukup besar dengan menggerakkan lebih dari 40 warga sekitar. Mereka mengolah sampah menjadi usaha produktif.

TPS3R yang digerakkan oleh KSM Kampung Asri dapat membuka lapangan kerja tambahan bagi sekitar 45 warga desa. Bahkan dalam sehari, mereka mampu mengelola sampah dari 250 kepala keluarga.

Sampah organik hasil pemilahan akan melewati proses pengomposan berkisar 2 minggu. Setelah itu, kompos dicacah dan diayak sehingga siap digunakan untuk para petani sekitar.

"Kami berusaha untuk menjalin kemitraan dengan salah satu lembaga pemuda di desa ini. Nah beberapa yang sudah terlaksana adalah seperti di kerajinan tangan waga KSM ini tidak khawatir membuat produk kerajinan sampah karena ketika mereka membuat produk, mereka bisa langsung menjualnya dan dibayar tunai di situ ," ujar Ketua KSM Kampung Asri, Saryono.

Ibu-ibu sekitar pun mengajarkan anak-anak untuk mengolah sampah anorganik menjadi kerajinan tangan unik. Hasilnya dijual ke dengan harga kisaran Rp 30 ribu sampai Rp 80 ribu.

Selain itu, KSM Kampung Asri turut berinovasi dalam mengelola sampah anorganik yang dibuat menjadi paving block dari plastik. Hingga kini mereka sudah menerima order sejumlah 7 ribu paving block dengan pembuatan satu paving block membutuhkan 3 kg plastik. Satu buah paving block dihargai sebesar Rp 5 ribu. Tidak hanya paving block, bata yang terbuat dari kertas pun juga tercipta melalui tangan kreatif warga KSM Kampung Asri.

"Kami ingin menghadirkan satu wilayah pengelolaan sampah yang tidak terkesan kumuh karena selama ini masyarakat memiliki image bahwa pengelolaan sampah pasti kumuh, bau. Kami ingin menolak itu. Harapan kami yang datang kesini tidak hanya having fun, tetapi ada satu edukasi yang dibawa pulang dan dapat diaplikasikan dalam sebuah tindakan nyata terhadap gerakan di rumah," katanya.

Bukti sampah membawa berkah terlihat dari potret kesuksesan masyarakat dalam mengelolanya dengan baik. Siklus perputaran ekonomi pun berjalan dengan baik hanya bermodalkan sampah dan pengelolaan air limbah. Hal tersebut juga menjadi hasil nyata KemenPUPR dalam menciptakan lingkungan yang tak hanya sehat dan bersih, tapi masyarakatnya juga maju serta sejahtera. (adv/adv)