2019, Rupiah Diramal Tak Lebih dari Rp15 Ribu per Dolar AS

CNN Indonesia | Rabu, 12/12/2018 19:18 WIB
2019, Rupiah Diramal Tak Lebih dari Rp15 Ribu per Dolar AS Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Rerata nilai tukar rupiah diproyeksi akan berada di level Rp14.900 per dolar Amerika Serikat (AS) pada 2019, atau lebih kuat dibanding asumsi makro pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 yang sebesar Rp15.000 per dolar AS.

Sepanjang tahun ini, nilai tukar rupiah diketahui berada pada kisaran Rp13.400-15.200 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan meyakini rupiah tidak akan sampai ke level Rp15.000, karena tekanan terhadap mata uang Garuda tahun depan bakal lebih ringan dibanding tahun ini.



"Kelihatannya 2019 akan sedikit lebih baik dari 2018. Depresiasi tampaknya tidak akan menyentuh 12-13 persen seperti sekarang, tidak begitu besar," ujar Anton, Rabu (12/12).

Ia menjelaskan tekanan rupiah akan berkurang tahun depan, lantaran bank sentral AS The Federal Reserve diperkirakan tidak akan seagresif tahun ini dalam melakukan kenaikan tingkat bunga acuannya (Fed Fund Rate/FFR).

Sepanjang tahun ini, The Fed sudah tiga kali mengerek bunga acuan dan diperkirakan akan kembali menaikkan satu kali lagi pada bulan ini. Dengan begitu, total kenaikan bunga acuan The Fed mencapai empat kali dalam setahun.


"Proyeksi kami, FFR masih akan naik tiga kali lagi tahun depan. Tapi kalau benar ada perlambatan ekonomi AS, kemungkinan FFR tidak naik tiga kali, lebih sedikit," katanya.

Pada 2018, tekanan terhadap rupiah sudah mulai mereda sejak November 2018. Terbukti, rupiah berhasil menguat dari Rp15.200 ke Rp14.200, meski kini kembali ke kisaran Rp14.600 per dolar AS. Sampai akhir 2018, rerata kurs rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp14.450 per dolar AS.

Lebih lanjut, tekanan dari potensi kenaikan bunga acuan The Fed tahun depan bakal memicu kenaikan tingkat bunga acuan Bank Indonesia atau 7 Days Reverse Repo Rate (BI 7DRRR). Apalagi, sambungnya, bank sentral nasional selalu menekankan bakal terus pre-emptive, front loading, dan ahead of the curve.


"Kami lihat BI akan menaikkan bunga acuan dua kali lagi. Tapi kalau The Fed hanya naik 1-2 kali, bisa saja BI tidak naikkan sampai dua kali," ucapnya.

Di sisi lain, potensi kenaikan bunga acuan The Fed masih akan memicu kenaikan imbal hasil (yield) surat utang AS, US Treasury Bond bertenor 10 tahun ke kisaran 3-3,5 persen. Bila ini terjadi, maka kenaikan bunga BI semakin dimungkinkan. Sebab, BI bakal terus menyeimbangkan tingkat bunga demi menjaga daya tarik dan arus modal (capital flow).

Kendati begitu, ia meyakini tekanan dari sisi moneter tetap tidak begitu tinggi bila dibandingkan tahun lalu. Namun, tekanan dari sisi perdagangan dunia bakal meningkat karena perang dagang antara AS-China belum berakhir. Apalagi, pasar uang kini mudah terpengaruh oleh sentimen perang dagang.


"Trumponomics dengan perang dagang ini memang baru dimulai Juni 2018, tapi perbincangannya sudah sejak awal tahun dan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda perbaikan," imbuhnya.

Bertolak belakang, Ekonom dari Centers of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah Redjalam memperkirakan rupiah justru bakal bergerak di kisaran Rp15.200-15.300 per dolar AS atau lebih lemah dari asumsi pemerintah.

Alasannya, masih ada potensi kenaikan bunga acuan The Fed yang diperkirakan bakal terjadi 2-3 kali lagi. Pada tahun ini, rerata rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp14.600-14.900 per dolar AS.

"Sebenarnya sumber tekanan masih relatif sama secara rata-rata selama 2019," katanya kepada CNNIndonesia.com. (uli/lav)