Jelang pergantian tahun, masyarakat seringkali disibukkan dengan rancangan resolusi untuk tahun berikutnya, tetapi seringkali abai untuk menyusun ulang portofolio investasi. Padahal, tata kelola investasi berpengaruh besar terhadap lini hidup lain, seperti pendidikan, kesehatan, karier, hubungan personal, bahkan keluarga.
Dalam menyusun ulang portofolio investasi, calon investor hendaknya menyesuaikan dengan tren ekonomi global dan domestik di tahun yang baru. Jika tidak sensitif, imbal hasil yang dikantongi tak akan optimal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, Eko menyarankan investor masuk ke instrumen investasi konservatif atau berisiko rendah, seperti deposito, reksa dana pasar uang, obligasi jangka pendek, dan emas. Sebaliknya, investor dianjurkan menahan diri untuk berinvestasi ke sektor properti hingga Pilpres 2019 berakhir.
Senada, Perencana Keuangan Tatadana Consulting Tejasari Assad menilai Pilpres 2019 akan membayangi iklim investasi tahun depan. Ia meminta investor berhati-hati dan selektif pada investasi saham. Sebab, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sangat rentan dengan kondisi politik yang gamang sebelum Pilpres 2019.
Guna mengetahui profil masing-masing instrumen investasi tahun depan, CNNIndonesia.com mengulasnya sebagai berikut:
Saham
Pesta demokrasi akan memberi angin segar bagi pasar modal. Pendapat terkait prospek saham itu diperoleh dari Analis Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya. Menurut dia, investor yang menaruh investasinya di saham hendaknya memperhitungkan investasi dalam jangka menengah hingga panjang.
"Pilpres akan membentuk kepastian baru, sehingga memberikan sentimen positif kepada pertumbuhan pasar modal," jelasnya.
Menurut William, portofolio yang menjanjikan pada 2019 adalah saham di sektor infrastruktur telekomunikasi, perbankan, dan ritel. Sebaliknya, ia mengimbau investor untuk mempertimbangkan ulang sebelum membeli saham-saham sektor tambang, terutama untuk transaksi jangka pendek. Alasannya, harga komoditas sedang mengalami tekanan.
"Harga minyak mentah masih mengalami tekanan jadi tidak menutup kemungkinan harga batu bara dan komoditas lain juga akan tertekan. Karena kita tahu turunnya harga minyak mentah akan berpengaruh pada harga komoditas lain," kata William.
Tak jauh berbeda, pengamat pasar modal dan pendiri LBP Institute Lucky bayu Purnomo menuturkan saham yang cukup menarik untuk dikoleksi di tahun politik adalah saham-saham sektor perbankan, consumer good (ritel), dan perkebunan.
Lucky mengatakan kinerja sektor perbankan berada di atas rata-rata kinerja IHSG sehingga perbankan menjadi sektor primadona. Adapun empat saham sektor perbankan yang menjadi rekomendasi Lucky antara lain, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (BBNI).
Berbanding terbalik dengan sektor perbankan, kinerja sektor perkebunan yang selama ini tak berpengaruh menggerakkan IHSG juga menghadirkan peluang tahun depan. Oleh karena itu, investor disarankan membeli saham emiten perkebunan berkapitalisasi besar seperti, PT PP London Sumatera Tbk (LSIP) dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI).
Sementara itu, saham-saham sektor ritel merupakan saham yang sifatnya defensif. Sebab, di tengah tingginya volatilitas pasar akibat tahun politik, arah kebijakan suku bunga The Fed, dan penurunan harga minyak dunia, saham-saham sektor ritel mampu bertahan. Adapun saham-saham yang menjadi rekomendasi Lucky antara lain, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Kimia Farma Tbk (KAEF), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).
"Sektor consumer good sendiri dapat dikatakan sektor pilihan paling seksi," kata Lucky.
Menghitung Cuan Reksa Dana dan Obligasi
Ilustrasi. (ANTARA FOTO).
Imbal hasil reksa dana tahun depan diprediksi lebih menjanjikan dibandingkan kinerja tahun ini. Direktur Utama PT Samuel Asset Management Agus B Yanuar menuturkan pemicunya adalah pulihnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Meskipun Greenback masih berpotensi menguat, Agus yakin penguatan bersifat terbatas dibanding tahun ini. Kondisi tersebut diharapakan menjadi stimulus terhadap kinerja perusahaan tercatat. Jika rata-rata laba perusahaan tahun ini hanya mampu bertumbuh 8 persen, tahun depan Agus optimistis rata-rata laba perusahaan bisa naik 12-13 persen.
“Artinya pertumbuhan laba lebih bagus,” ucapnya.
Selain kembalinya stabilitas nilai tukar, meredanya tensi perang dagang juga disebut Agus sebagai angin segar bagi perekonomian Indonesia. Ia juga menyebut ada perpindahan aset dari developed market ke emerging market termasuk Indonesia, karena valuasinya lebih murah dan menarik.
Agus melihat potensi penguatan IHSG ke rentang 6.800-7.200 di akhir tahun. Jika target tersebut tercapai, maka kinerja reksa dana terutama reksa dana saham dan pendapatan tetap ikut terdongkrak.
Sementara itu, kinerja reksa dana tahun ini diakui Agus kurang gemilang. Misalnya, rata-rata imbal hasil reksa dana saham minus 6 persen secara tahun kalender, reksa dana pendapatan tetap minus 2 hingga minus 3 persen, dan reksa dana campuran minus 4 persen. Kinerja paling moncer justru tampak pada reksa dana pasar uang yang mampu memberikan imbal hasil 4-5 persen.
Namun demikian, Agus meyakini angka imbal hasil akan berbalik positif tahun depan. Jika target indeks terlampaui, imbal hasil reksa dana saham bisa mencapai 13,5-18 persen secara tahunan, reksa dana pendapatan tetap 7-9 persen, dan reksa dana campuran 10-12 persen. Sedangkan reksa dana pasar uang yang sifatnya lebih konservatif bisa memberikan imbal hasil 4-5 persen per tahun.
Sementara itu, Direktur Utama Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana memprediksi pasar modal masih mengalami volatilitas tahun depan. Akan tetapi, kondisi ini justru menjadi peluang bagi reksa dana saham apabila fund manager mampu memaksimalkan volatilitas itu. Di sisi lain, prospek ekonomi AS yang mulai stagnan menjadi peluang emas bagi negara emerging market termasuk Indonesia.
Tantangannya, lanjut Jemmy, ada pada reksa dana pendapatan tetap karena tren kenaikan suku bunga global dan pelemahan rupiah masih membayangi.“Pasar saham masih menarik karena mulai masuknya dana asing ke emerging market termasuk Indonesia karena valuasi lebih rendah,” katanya.
Baik Agus dan Jemmy sepakat sentimen Pilpres 2019 tidak menjadi sentimen negatif bagi pasar. Sebab secara historis selama tiga tahun penyelenggaraan Pilpres pasar saham justru mampu tumbuh positif sepanjang tahun. Tidak dapat dipungkiri akan mucul gejolak di pasar menjelang maupun saat Pilpres berlangsung. Akan tetapi kondisinya akan kembali stabil jika Pilpres terlah berakhir dan presiden telah ditetapkan.
Obligasi
Peluang investasi di surat utang atau obligasi tahun depan tidak berbeda jauh dengan tahun ini. Perencana Keuangan Tatadana Consulting Tejasari Assad menganjurkan investor untuk membeli Obligasi Ritel Indonesia (ORI) yang diterbitkan pemerintah. Toh, kupon yang ditawarkan cukup tinggi dalam tenor jangka pendek. Pemerintah baru saja menerbitkan ORI015 pada Oktober lalu dengan kupon 8,25 per tahun dan tenor tiga tahun.
Untuk obligasi korporasi, Tejasari mengimbau investor untuk selektif dengan mempelajari tingkat risiko dan profil perusahaan sebelum membeli obligasi korporasi. Menurutnya, penting bagi investor untuk memahami fundamental perusahaan di samping mempertimbangkan imbal hasil.
“Obligasi korporasi takutnya dengan ketidakpastian ekonomi dan politik, kinerja korporasi ditakutkan agak goyang. Tahun ini saja ada beberapa perusahaan yang gagal bayar (obligasi),” kata Tejasari.