Periskop 2019

Utak-Atik Keranjang Investasi di Tahun Babi Tanah

CNN Indonesia | Senin, 31/12/2018 10:15 WIB
Menghitung Cuan Reksa Dana dan Obligasi Ilustrasi. (ANTARA FOTO).

Menghitung Cuan Reksa Dana dan Obligasi

Reksa Dana

Imbal hasil reksa dana tahun depan diprediksi lebih menjanjikan dibandingkan kinerja tahun ini. Direktur Utama PT Samuel Asset Management Agus B Yanuar menuturkan pemicunya adalah pulihnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Meskipun Greenback masih berpotensi menguat, Agus yakin penguatan bersifat terbatas dibanding tahun ini. Kondisi tersebut diharapakan menjadi stimulus terhadap kinerja perusahaan tercatat. Jika rata-rata laba perusahaan tahun ini hanya mampu bertumbuh 8 persen, tahun depan Agus optimistis rata-rata laba perusahaan bisa naik 12-13 persen.


“Artinya pertumbuhan laba lebih bagus,” ucapnya.

Selain kembalinya stabilitas nilai tukar, meredanya tensi perang dagang juga disebut Agus sebagai angin segar bagi perekonomian Indonesia. Ia juga menyebut ada perpindahan aset dari developed market ke emerging market termasuk Indonesia, karena valuasinya lebih murah dan menarik.


Agus melihat potensi penguatan IHSG ke rentang 6.800-7.200 di akhir tahun. Jika target tersebut tercapai, maka kinerja reksa dana terutama reksa dana saham dan pendapatan tetap ikut terdongkrak.

Sementara itu, kinerja reksa dana tahun ini diakui Agus kurang gemilang. Misalnya, rata-rata imbal hasil reksa dana saham minus 6 persen secara tahun kalender, reksa dana pendapatan tetap minus 2 hingga minus 3 persen, dan reksa dana campuran minus 4 persen. Kinerja paling moncer justru tampak pada reksa dana pasar uang yang mampu memberikan imbal hasil 4-5 persen.

Namun demikian, Agus meyakini angka imbal hasil akan berbalik positif tahun depan. Jika target indeks terlampaui, imbal hasil reksa dana saham bisa mencapai 13,5-18 persen secara tahunan, reksa dana pendapatan tetap 7-9 persen, dan reksa dana campuran 10-12 persen. Sedangkan reksa dana pasar uang yang sifatnya lebih konservatif bisa memberikan imbal hasil 4-5 persen per tahun.

Sementara itu, Direktur Utama Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana memprediksi pasar modal masih mengalami volatilitas tahun depan. Akan tetapi, kondisi ini justru menjadi peluang bagi reksa dana saham apabila fund manager mampu memaksimalkan volatilitas itu. Di sisi lain, prospek ekonomi AS yang mulai stagnan menjadi peluang emas bagi negara emerging market termasuk Indonesia.


Tantangannya, lanjut Jemmy, ada pada reksa dana pendapatan tetap karena tren kenaikan suku bunga global dan pelemahan rupiah masih membayangi.“Pasar saham masih menarik karena mulai masuknya dana asing ke emerging market termasuk Indonesia karena valuasi lebih rendah,” katanya.

Baik Agus dan Jemmy sepakat sentimen Pilpres 2019 tidak menjadi sentimen negatif bagi pasar. Sebab secara historis selama tiga tahun penyelenggaraan Pilpres pasar saham justru mampu tumbuh positif sepanjang tahun. Tidak dapat dipungkiri akan mucul gejolak di pasar menjelang maupun saat Pilpres berlangsung. Akan tetapi kondisinya akan kembali stabil jika Pilpres terlah berakhir dan presiden telah ditetapkan.

Obligasi

Peluang investasi di surat utang atau obligasi tahun depan tidak berbeda jauh dengan tahun ini. Perencana Keuangan Tatadana Consulting Tejasari Assad menganjurkan investor untuk membeli Obligasi Ritel Indonesia (ORI) yang diterbitkan pemerintah. Toh, kupon yang ditawarkan cukup tinggi dalam tenor jangka pendek. Pemerintah baru saja menerbitkan ORI015 pada Oktober lalu dengan kupon 8,25 per tahun dan tenor tiga tahun.

Untuk obligasi korporasi, Tejasari mengimbau investor untuk selektif dengan mempelajari tingkat risiko dan profil perusahaan sebelum membeli obligasi korporasi. Menurutnya, penting bagi investor untuk memahami fundamental perusahaan di samping mempertimbangkan imbal hasil.


“Obligasi korporasi takutnya dengan ketidakpastian ekonomi dan politik, kinerja korporasi ditakutkan agak goyang. Tahun ini saja ada beberapa perusahaan yang gagal bayar (obligasi),” kata Tejasari. (ulf/lav)
2 dari 3