Laba Diramal Anjlok, Freeport Tak Bagi Dividen Hingga 2020

CNN Indonesia | Rabu, 09/01/2019 20:47 WIB
Laba Diramal Anjlok, Freeport Tak Bagi Dividen Hingga 2020 Ilustrasi tambang Freeport Indonesia. (Dok. PT Freeport Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Induk PT Freeport Indonesia, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) menyatakan Freeport tidak akan membayar dividen pada 2019 dan 2020.  Hal ini lantaran laba perusahaan pada tahun ini diproyeksikan bakal merosot dibandingkan 2018.

"Kami tidak akan bagi dividen dua tahun. 2021 mulai ada sedikit (dividen), 2022 besar, 2023 anteng (stabil)," ujar Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin usai menghadiri sebuah acara, Jumat (9/1).

Berdasarkan prognosa Inalum, pendapatan Freeport pada tahun ini diperkirakan ada di kisaran US$3,14 miliar atau merosot 51,8 persen dibandingkan perkiraan pendapatan tahun lalu yang mencapai US$6,52 miliar. Sementara pada 2017, Freeport mencatatkan pendapatan sebesar US$4,4 miliar.



Merosotnya pendapatan berimbas pada anjloknya laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) Freeport Indonesia. Laba EBIDTA Freeport tahun ini diproyeksi turun dari US$4 miliar pada tahun lalu menjadi US$1,26 miliar. Adapun pada 2017, Freeport mencatatkan laba operasional (laba sebelum bunga dan pajak) sebesar US$2,02 miliar. 

Pada 2020, perseroan memperkirakan pendapatan perseroan akan kembali menanjak menjadi US$3,83 miliar. Kondisi itu diikuti kenaikan EBITDA menjadi US$1,79 miliar.

Setelah itu, pendapatan dan EBITDA perusahaan akan terus menanjak hingga mencapai puncaknya pada 2023 di mana pendapatan diramal bakal mencapai US$7,46 miliar dan EBITDA mencapai US$4,5 miliar.


Meski laba turun, Budi mengungkapkan investasi perusahaan tidak akan terganggu. Budi memperkirakan investasi tahun ini hingga 2023 akan berkisar US$1 miliar hingga US$1,4 miliar per tahun.

"Investasi itu di luar smelter (fasilitas pemurnian dan pengolahan)," ujarnya.

Sebagai catatan, Freeport Indonesia terakhir kali membagikan dividen kepada pemerintah untuk tahun buku 2017 sebesar US$103 juta atau sekitar Rp1,4 triliun dengan asumsi kurs Rp14 ribu per dolar AS. Dividen tersebut diberikan atas kepemilikan saham pemerintah sebesar 9,36 persen. (sfr/agi)