Soal Brexit, Airbus Ancam Pindahkan Pabrik dari Inggris

CNN Indonesia | Jumat, 25/01/2019 12:55 WIB
Soal Brexit, Airbus Ancam Pindahkan Pabrik dari Inggris Ilustrasi. (REUTERS/Regis Duvignau).
Jakarta, CNN Indonesia -- Airbus, perusahaan produsen pesawat terbang asal Perancis, mengancam akan memindahkan pabriknya keluar dari Inggris di masa mendatang, seiring pemisahan Inggris dari Uni Eropa (British Exit/Brexit) yang berlangsung tak mulus.

Jika tak ada kesepakatan tersebut Brexit, Airbus diramalkan akan membawa keputusan yang berpotensi sangat berbahaya untuk aktivitas operasional industri pesawat Inggris.

Dalam seruan langsung kepada parlemen Inggris, CEO Airbus Tom Enders mengungkapkan tidak akan ada perubahan signifikan terhadap keberlangsungan aktivitas industrinya, namun langkah pemindahan pabrik pembuatan sayap pesawat itu justru akan memberi risiko terhadap sektor lapangan kerja di Inggris.


"Sektor kedirgantaraan Inggris sekarang berada di ujung tanduk. Jika tidak ada kesepakatan terkait Brexit, kami di Airbus harus membuat keputusan yang berpotensi membahayakan Inggris," kata Enders dalam sebuah video yang dirilis di situs web Airbus seperti dikutip dari Reuters, Kamis (24/1).


Grup produsen pesawat terbesar kedua di dunia itu mempekerjakan sebanyak 14 ribu orang di Inggris, termasuk 6.000 di pabrik pembuatan sayap utamanya di Broughton, Wales, dan 3.000 di Filton, Inggris Barat, tempat pesawat dirancang.

Sebelumnya, sejumlah pengkritik meragukan peringatan Airbus yang akan memindahkan kegiatan operasional secara signifikan dari Inggris. Menurut mereka, aktivitas pabrik di Broughton memberi efisiensi bagi Airbus. Menanggapi kritik tersebut, Enders menegaskan pihaknya tidak hanya menggertak.

"Tolong jangan dengarkan kegilaan pendukung Brexit yang menegaskan bahwa, karena kami memiliki 'tanaman besar' di sini, kami tidak akan bergerak dan kami akan selalu di sini. Mereka salah," tegasnya.

Menurut dia, tentu saja tidak mungkin untuk memindahkan pabrik-pabrik besar Airbus dari Inggris ke bagian dunia lain dengan segera. Namun, sektor aerospace adalah bisnis jangka panjang dan Airbus dapat dipaksa untuk mengambil kembali investasi masa depan.


"Jangan salah, ada banyak negara di luar sana yang ingin membangun sayap untuk pesawat Airbus," katanya. (Reuters/lav)