Eka lahir dari keluarga miskin di Quanzhou, Provinsi Fujian (Hokkian), Tiongkok. Dia lahir dengan nama Oei Ek Tjhong pada 1921.
Pada usia 10 tahun, ibunya memboyong Eka migrasi ke Makassar, Sulawesi Selatan menyusul sang ayah yang sudah lebih dulu migrasi. Sang ayah merupakan pedagang di Makassar dengan membuka toko.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eka pun mengalami banyak pasang surut dalam usaha. Bangkrut satu usaha, coba usaha lain.
Eka terus menggeluti dunia usaha dengan bendera perusahaan Sinar Mas. Dia kemudian mendirikan penyulingan minyak nabati dan kopra pertama Sinar Mas, yakni Pabrik Bitung Manado Oil Limited di Sulawesi Utara pada 1968.
Seiring perkembangannya, Sinar Mas mengakuisisi pabrik soda kimia, Tjiwi Kimia pada tahun 1972, yang kemudian menjadi pabrik kertas pertama Sinar Mas.
Pada tahun 1986, Sinar Mas Forestry mengelola hutan tanaman industrinya yang pertama. PT Dian Swastatika Sentosa juga didirikan pada tahun 1996 untuk memasok listrik ke fasilitas-fasilitas produksi Sinar Mas di pedalaman.
Pada tahun 2006, Sinar Mas juga merambah bisnis telekomunikasi ketika mendiri smartfren sebagai hasil merger dengan salah satu provider, Fren.
Kini secara umum Sinar Mas memiliki enam pilar bisnis. Yakni Sinar Mas Agro Resources and Technology, Sinarmas Energy and Mining, Duta Pertiwi Developer and Real Estate, Bank Sinar Mas Multiartha, Asia Pulp and Paper, dan Smart Telecom.
Dengan kerajaan bisnisnya itu, Eka pun masuk sebagai orang terkaya ketiga di Indonesia versi Forbes pada 2018. Total kekayaannya mencapai US$8,6 miliar. (osc/osc)