2018 Jeblok, OJK Yakin Pasar Modal Makin Bergairah Tahun Ini

CNN Indonesia | Kamis, 28/02/2019 15:46 WIB
2018 Jeblok, OJK Yakin Pasar Modal Makin Bergairah Tahun Ini Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso memperkirakan aktivitas penghimpunan dana di pasar modal akan lebih bergairah pada 2019 dibanding tahun sebelumnya. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan aktivitas penghimpunan dana di pasar modal akan lebih bergairah pada 2019 dibanding tahun sebelumnya. Hal itu dipicu investor mulai mengalihkan dana dari sektor perbankan karena tingkat imbal hasil (yield) berpotensi menurun.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menilai normalisasi kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserves akan mendorong aliran dana asing kembali ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Ini jadi sentimen positif, portofolio kemungkinan masuk dan cadangan devisa bisa naik lagi lebih dari US$120 miliar. Sektor keuangan akan lebih mudah pada 2019 dibanding 2019," jelas Wimboh dalam Economic Outlook 'Prospek Ekonomi di Tahun Politik' yang digelar CNBC Indonesia, Kamis (28/2).


Besarnya aliran dana asing yang masuk akan mendorong yield perbankan lebih rendah. Di sisi lain, investor juga akan melirik pasar modal sebagai wahana berinvestasi dengan imbal hasil yang menarik.


"Kemungkinan potensi lending yield turun. Jadi capital market raising money-nya bisa lebih besar dibanding 2018," katanya.

Ke depan, OJK berjanji akan mendorong segmen pembiayaan jangka panjang dengan beragam insentif. Tak hanya itu, insentif juga akan diberikan pada segmen menengah melalui KUR (Kredit Usaha Rakyat) klaster, dan sektor mikro melalui bank wakaf.

Sebelumnya, suku bunga acuan berimbas terhadap yield di pasar modal. Alhasil, pertumbuhan pasar modal tidak seperti yang diharapkan. Berdasarkan data OJK, raihan dana di pasar modal pada 2018 tercatat hanya Rp166 triliun atau melorot hingga 34,9 persen dari raihan dana pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp255 triliun.


Pada awal tahun, Wimboh menyebut salah satu penyebab minimnya raihan dana ialah volatilitas pasar keuangan yang cukup tinggi pada tahun lalu. Namun, ia mengklaim dengan situasi pasar yang tak kondusif, penghimpunan dana di pasar modal dalam negeri masih lebih baik.

Salah satu penyumbang penghimpunan dana di pasar modal berasal dari berbagai aksi korporasi perusahaan, seperti obligasi dan perusahaan yang melakukan penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO).

Berdasarkan catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah perusahaan yang melantai di Bursa Efek tahun lalu sebanyak 57 emiten. Realisasi itu boleh dibilang mencetak rekor sejak 1995 silam.

BEI melansir belum pernah ada perusahaan yang melakukan go public lebih dari 40 emiten dalam setahun. Pada 2017 misalnya, jumlah perusahaan yang IPO hanya 37 emiten dan 16 emiten pada 2016 lalu.


Dari sisi nilai, BEI mengungkap total penghimpunan dana melalui IPO mencapai Rp16,01 triliun atau meningkat 68 persen dari tahun sebelumnya yang hanya Rp9,55 triliun. (rim)