Ketua OJK Wimboh Santoso mengaku tak menduga kebijakan bank sentral AS tahun lalu akan menimbulkan dampak yang besar pada pasar keuangan di Tanah Air. Tahun lalu, cadangan devisa Bank Indonesia bahkan tergerus dari sekitar US$130 miliar menjadi US$115 miliar. Kondisi tersebut tentu juga berdampak pada kondisi likuiditas perbankan yang mengetat.
"Kami lihat likuiditas (perbankan) ketat di 2018, sudah jelas bunga deposito naik. Tapi kami apresiasi sektor keuangan yang suku bunga kreditnya ternyata flat," ujar Wimboh di Jakarta, Kamis (28/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Laba Bank Kecil Makin Tergerus |
Menurut Wimboh, bunga kredit yang flat memang membuat margin bunga bersih perbankan sedikit menurun pada tahun lalu. Kendati demikian, bank tetap mencatatkan kenaikan keuntungan yang cukup memuaskan.
"Overall untung masih besar karena fee based cukup besar. Jadi sumber keuntungan diganti dengan perbaikan teknologi yang menghasilkan fee based," jelas dia.
Sementara OJK mencatat sepanjang tahun lalu, perbankan membukukan laba bersih mencapai Rp150 triliun, naik 14,4 persen dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan laba terutama didorong oleh pendapatan nonbunga yang tumbuh mencapai 12,82 persen dari Rp231,5 triliun menjadi Rp261,2 triliun.
Sementara pendapatan bunga bersih perbankan tahun lalu naik 5,3 persen menjadi Rp377,25 triliun, sedangkan NIM turun dari 5,32 persen menjadi 5,14 persen. (ulf/agi)