Dolar AS Banjir Peminat, Rupiah Anjlok ke Rp14.145

CNN Indonesia | Rabu, 06/03/2019 16:47 WIB
Dolar AS Banjir Peminat, Rupiah Anjlok ke Rp14.145 Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.145 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Rabu (6/3) sore atau melemah 0,12 persen dibanding kemarin. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.145 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Rabu (6/3) sore. Dengan demikian, rupiah melemah 0,12 persen dibandingkan penutupan pada Selasa (5/3), yakni Rp14.128 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.129 per dolar AS atau menguat dibanding kemarin, Rp14.146 per dolar AS. Hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp14.122 hingga Rp14.154 per dolar AS.

Sebagian besar mata uang Asia menunjukkan pelemahan pada hari ini. Yuan China melemah 0,01 persen, peso Filipina melemah 0,06 persen, dan rupee India melemah 0,08 persen. Kemudian, dolar Singapura melemah 0,14 persen, dan won Korea Selatan terjerembab 0,31 persen.


Hari ini, posisi buncit ditempati baht Thailand dan ringgit Malaysia yang masing-masing mengalami pelemahan sebesar 0,35 persen dan 0,39 persen.

Sementara itu di Asia, hanya Jepang saja yang mengalami penguatan, yakni 0,04 persen terhadap dolar AS. Di sisi lain, dolar Hong Kong tak bergeming menghadapi dolar AS.

Hal serupa juga terjadi bagi mata uang negara maju, di mana poundsterling Inggris dan dolar Australia mengalami pelemahan terdalam yakni sebesar 0,21 persen dan 0,79 persen. Euro sendiri hanya tercatat melemah 0,01 persen.


Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan faktor pelemahan kali ini masih didominasi oleh dolar yang menguat. Semakin banyak pelaku pasar yang meminati dolar pada perdagangan hari ini setelah China memangkas proyeksi pertumbuhan ekonominya.

Kemarin, Pemerintah China memangkas target pertumbuhan ekonomi 2019 menjadi di kisaran 6 persen hingga 6,5 persen. Adapun sebelumnya, target pertumbuhan ekonomi 2019 dipatok di kisaran 6,5 persen. Ini berpengaruh terhadap rupiah mengingat aktivitas ekonomi China erat kaitannya dengan Indonesia.

Di samping itu, pelaku pasar sudah melihat pertumbuhan ekonomi yang paling solid hanyalah AS. Hal ini akan menguatkan minat pelaku pasar untuk berinvestasi di AS, ditambah dengan kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) AS.


"Karena memang perekonomian AS kan yang paling solid dan yang paling stabil dibandingkan dengan negara utama lain. Australia juga tadi pagi angka Produk Domestik Bruto (PDB) cukup jelek tidak sesuai ekspektasi," jelas Dini kepada CNNIndonesia.com, Rabu (6/3).


(glh/bir)