Ekspor RI ke kazakhstan dan Yunani Melonjak Drastis Februari

CNN Indonesia | Jumat, 15/03/2019 19:16 WIB
Ekspor RI ke kazakhstan dan Yunani Melonjak Drastis Februari Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Indonesia ke negara-negara nontradisional meningkat drastis secara bulanan pada Februari. Bahkan, 10 besar pertumbuhan ekspor tertinggi pada bulan lalu menyasar ke pasar-pasar nontradisional.

BPS mencatat, pertumbuhan ekspor bulanan terbesar pada bulan lalu ditujukan ke Malaysia, Hong Kong, Kazakhstan, Swiss, Yunani, Bangladesh, Tanzania, Vietnam, Norwegia, hingga Srilanka.

Pada Februari, Ekspor Indonesia bertumbuh paling besar ke Kazakhstan dengan pertumbuhan mencapai 149 kali lipat, dari hanya US$341.024 menjadi US$50,91 juta dalam kurun satu bulan saja. Adapun, pertumbuhan ekspor ke negara Asia Tengah itu berupa mesin dan peralatan listrik, dengan nilai US$50,07 juta.


Kemudian, pertumbuhan ekspor kedua dicatat oleh Yunani dengan nilai 114,78 persen, yakni dari US$12,09 miliar pada Januari menjadi US$25,98 miliar bulan lalu. Ekspor terbesar ke negara tersebut berupa lemak dan hewan nabati, kertas karton, dan alas kaki.


Tingginya pertumbuhan ekspor ke Yunani disusul oleh Tanzania. Ekspor Indonesia ke negara Afrika tersebut tumbuh 84,7 persen, dari mulai US$15,82 juta di Januari menjadi US$29,22 juta pada bulan lalu.

Meski mencatat pertumbuhan yang jumbo, namun Kepala BPS Suhariyanto menyebut nilai ekspor ke negara-negara tersebut masih sangat minim dibanding pasar ekspor tradisional seperti Jepang, China, hingga Amerika Serikat.

Data BPS menunjukkan ekspor China pada Februari tercatat US$1,53 miliar atau 13,38 persen terhadap total ekspor non-migas US$11,43 miliar. Kemudian, ekspor Indonesia paling besar kedua ditujukan ke AS dengan nilai US$1,27 miliar atau 11,12 persen dai total ekspor non-migas.

Meski porsinya cukup besar, namun pertumbuhan ekspor ke pasar tradisional ini melemah secara bulanan. Tercatat, ekspor bulanan ke China pada Februari melemah 18,07 persen, sementara ke AS juga melemah 15,79 persen.


"Tapi, komposisinya tidak banyak berubah. Ini menunjukkan bahwa Indonesia masih tergantung dengan China, AS, dan Jepang," jelas Suhariyanto, jumat (15/3).

Dengan data ini, ia menyebut sebetulnya Indonesia sudah berupaya untuk merangsek masuk pasar non-tradisional.

Menurut dia, hal itu memang upaya yang harus dilakukan mengingat beberapa negara mitra ekspor utama Indonesia meramal pelemahan ekonomi di tahun ini. Sebab, semakin rendah pertumbuhan ekonomi suatu negara, maka kemampuan impornya akan berkurang.

Ia mencontohkan China yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonominya dari 6,5 persen ke kisaran 6 persen hingga 6,5 persen. Begitu pun dengan Amerika Serikat yang pertumbuhan ekonominya diproyeksi 2,1 persen atau melemah dibanding tahun lalu 2,9 persen.


Pembukaan ekspor tradisional juga penting untuk mendongkrak nilai ekspor Februari yang melemah 7,76 persen secara bulanan dibanding Januari. Ini juga agar menyelamatkan Indonesia dari potensi defisit neraca perdagangan.

"Tentu masih ada pekerjaan rumah yang besar bagi Indonesia untuk bisa diversifikasi ekspor ke pasar non-tradisional," papar dia.

[Gambas:Video CNN] (glh/lav)