Ramal BI Ikuti The Fed, Bank Tahan Bunga Deposito dan Kredit

CNN Indonesia | Kamis, 21/03/2019 13:35 WIB
Ramal BI Ikuti The Fed, Bank Tahan Bunga Deposito dan Kredit Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa perbankan nasional mengaku masih akan mempertahankan tingkat suku bunga deposito dan bunga kredit pada bulan ini. Kebijakan diambil karena para bankir memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mengikuti langkah bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve.

Pada Kamis dini hari waktu Indonesia, The Fed mengumumkan keputusannya untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan. Bahkan, bank sentral di Negeri Paman Sam itu memperkirakan tak akan menaikkan bunga acuan pada tahun ini.

Kebijakan tersebut berbanding terbalik jika dibandingkan tahun lalu. Pasalnya, tahun lalu The Fed cukup agresif dalam mengerek bunga acuan sampai empat kali.


Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk alias BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan langkah The Fed akan diikuti oleh BI karena masih perlu menjaga jarak antara tingkat bunga antar bank sentral. Tujuannya, agar tingkat bunga dari berbagai instrumen pasar keuangan tetap mampu menarik modal asing (capital inflow) agar mengalir ke Indonesia.


Saat ini, bunga acuan BI (7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR) berada di angka 6 persen, sementara bunga acuan The Fed sebesar 2,25-2,5 persen. Selain itu, menurutnya, BI perlu mengikuti The Fed agar tingkat bunga acuan di Indonesia stabil dalam beberapa bulan.

Ia mengatakan antisipasi yang dilakukan Gubernur BI Perry Warjiyo terhadap kebijakan Gubernur The Fed Jerome Powell pada tahun lalu membuat bunga acuan sangat cepat berubah. "(BI akan tahan bunga) supaya ekonomi semakin berkembang dengan bunga stabil dan tidak perlu naik terus," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (21/3).

Tak hanya mempertimbangkan sikap BI, orang nomor satu di bank swasta terbesar di Indonesia itu mengatakan bank tentu juga mengkaji tingkat bunga deposito dan kredit dari sisi kinerja perusahaan. Terutama yang berkaitan dengan kondisi likuiditas bank yang tercermin dari rasio kredit terhadap dana simpanan nasabah, obligasi, hingga pinjaman bilateral (Loan to Funding Ratio/LFR).

"Kalau (LFR) sudah di level 90 persen ke bawah, aman untuk menurunkan bunga. Tapi kalau masih di kisaran 93-95 persen, kalau BI rate (bunga acuan) turun pun belum tentu langsung di-respons semua pemain di industri," jelasnya.

[Gambas:Video CNN]

Sementara saat ini, Jahja mencatat LFR BCA berada di angka 82-83 persen. Angka ini sejatinya cukup meyakinkan bagi BCA untuk menurunkan tingkat bunga. Namun ia mengaku masih perlu waktu untuk memantau kondisi ekonomi dan prospek bisnis ke depan.

Sebagai strategi agar aliran kredit tetap tokcer, ia mengatakan perusahaan lebih memilih untuk mengumbar promo kredit. Obral secara khusus diberikan bagi kredit di segmen konsumer, seperti kartu kredit dan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Sedangkan segmen kredit lain, menurutnya, masih perlu kajian lebih lanjut. Sebab, lebih minim risiko.  
"Kredit konsumer (yang berpotensi dilonggarkan), tapi kami turunkan karena promo saja, bukan permanen," terangnya.

Senada, Direktur Utama PT Bank Mayapada Tbk Haryono Tjahjarijadi mengatakan bank belum akan mengubah suku bunga deposito dan kredit karena mengacu penuh dengan kebijakan bunga acuan BI. Sementara langkah BI biasanya merujuk pada The Fed.

"Otomatis pasar pasti akan me-respons apapun yang BI lakukan. Kalau tidak ada perubahan berarti tidak ada transmisi perubahan juga," katanya.

Sementara sekalipun ada segmen kredit yang perlu disesuaikan, menurutnya, Bank Mayapada akan lebih dulu mengubah tingkat bunga kredit di sektor perdagangan. Hal ini karena kredit sektor perdagangan merupakan bisnis utama bank, sehingga lebih minim risiko.


(uli/agt)