Rata-rata Transaksi Pengguna Gopay Cs Rp33 Ribu

CNN Indonesia | Jumat, 05/04/2019 21:52 WIB
Rata-rata Transaksi Pengguna Gopay Cs Rp33 Ribu Ilustrasi pembayaran dengan dompet elektronik. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) menyebut rata-rata transaksi pembayaran menggunakan dompet elektronik nonbank, seperti Gopay dan OVO lebih tinggi dari transaksi uang elektronik yang diterbitkan bank. Hal ini merujuk pada data transaksi pembayaran dari berbagai perusahaan penyelenggara jasa sistem pembayaran yang ada di Indonesia.

Asisten Gubernur sekaligus Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran (DKSP) BI Filianingsih Hendarta mencatat rata-rata transaksi pembayaran pengguna dompet elektronik mencapai Rp33 ribu per transaksi. Sementara rata-rata transaksi pengguna uang elektronik terbitan bank hanya sekitar Rp13 ribu per transaksi.

"Kenapa lebih tinggi? Karena kebanyakan uang elektronik bank itu untuk (pembayaran) jalan tol, itu bayarnya sedikit, apalagi untuk tol dalam kota. Kalau yang nonbank untuk transaksi pembelian minuman Starbucks, Go-Food, itu lebih tinggi memang," ujarnya di Kompleks Gedung BI, Kamis (4/4).


Selain itu, ia mengatakan besarnya rata-rata transaksi pembayaran pengguna dompet elektronik juga didukung oleh jumlah pengguna yang lebih tinggi ketimbang pengguna uang elektronik bank.


Data bank sentral nasional mencatat jumlah pengguna dompet elektronik mencapai 113,5 juta per Maret 2019. Sedangkan jumlah pengguna uang elektronik bank hanya separuhnya sekitar 60,3 juta pengguna.

Lebih lanjut, pengguna dompet elektronik nonbank mayoritas merupakan pengguna yang hanya terdaftar di server aplikasi perusahaan, yaitu mencapai 99,8 persen. Sisanya, sekitar 0,2 persen merupakan pengguna dompet elektronik yang juga memiliki kartu chip yang terhubung dengan aplikasi dompet digital tersebut.

Sebaliknya, pengguna uang elektronik bank didominasi oleh pengguna kartu chip mencapai 83,3 persen. Sisanya, 16,7 persen merupakan pengguna uang elektronik yang terhubung dengan server aplikasi bank.

"Secara total, uang elektronik nonbank ada 22 penerbit dan bank 12 penerbit," katanya.


Kendati begitu, secara keseluruhan, Fili melihat data ini menunjukkan bahwa potensi penggunaan dompet digital dan uang elektronik sebagai bagian dari transaksi pembayaran nontunai masih sangat besar.

Sebab, data BI turut mencatat bahwa tingkat inklusi keuangan di Indonesia sampai awal tahun ini baru sekitar 25 persen. Padahal, target inklusi keuangan pemerintah ingin mencapai 75 persen sampai akhir tahun ini.

"Dengan penggunaan noncash yang masih rendah ini, kami masih punya room untuk dorong transaksi noncash. Apalagi dengan adanya QR Code dan Gerbang Pembayaran Nasional (GPN), ini bisa mendorong masyarakat lebih banyak memanfaatkan pembayaran non tunai," pungkasnya. (uli/agi)