BI dan 3 Bank Sentral ASEAN Komitmen Pangkas Transaksi Dolar

CNN Indonesia | Jumat, 05/04/2019 14:51 WIB
BI dan 3 Bank Sentral ASEAN Komitmen Pangkas Transaksi Dolar BI, Bank Negara Malaysia, Bangko Sentral ng Pilipinas, dan Bank of Thailand sepakat mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan bilateral. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI), Bank Negara Malaysia, Bangko Sentral ng Pilipinas, dan Bank of Thailand berkomitmen mendorong penggunaan mata uang lokal (local currency settlement framework) dalam transaksi perdagangan bilateral di kawasan ASEAN. Penggunaan mata uang lokal dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan menciptakan perekonomian yang lebih efisien.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko menjelaskan komitmen tersebut disepakati dalam rangkaian pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral se-ASEAN di Chiang Rai, Thailand, Jumat (5/4). Keempat bank sentral juga tengah kemungkinan membentuk LCS framework di antara keempat negara.

"LCS framework tersebut diharapkan dapat memfasilitasi kegiatan ekonomi dan keuangan antara Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand secara lebih efisien," ujar Onny dalam keterangan resmi, Jumat (5/4).



Selain itu, menurut dia, BI dan Bank of Thailand juga sepakat untuk mengeksplorasi kemungkinan perluasan cakupan LCS framework yang telah berjalan saat ini.

Onny menyebut komitmen antara empat bank sentral ini sebenarnya merupakan pengembangan dua Nota Kesepahaman antara BI-BNM dan BI-Bank of Thailand yang ditandatangani pada 2016. Sejak itu, terdapat peningkatan penggunaan mata uang lokal untuk penyelesaian transaksi perdagangan bilateral, seiring dengan penurunan marjin kurs valuta asing.


Total transaksi perdagangan melalui LCS terus menunjukkan peningkatan. Pada kuartal I 2019, total transaksi perdagangan melalui LCS menggunakan Baht (THB) mencapai US$13 juta (setara Rp185 miliar), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebesar US$7 juta (setara Rp96 miliar). Sementara untuk transaksi LCS menggunakan Ringgit (MYR) mencapai US$70 juta (setara Rp1 triliun), meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebesar US$6 juta (setara Rp83 miliar).

"Kerja sama tersebut akan memberikan manfaat bagi pelaku usaha melalui pengurangan biaya transaksi dan peningkatan efisiensi dalam settlement perdagangan," terang dia.

Onny menambahkan kerangka kerja sama di antara empat negara juga akan mendorong penggunaan mata uang lokal lebih luas lagi dalam masyarakat ekonomi ASEAN dan pengembangan pasar keuangan di kawasan. (agi/agi)