BRI Terbitkan Obligasi Rp6 Triliun pada Semester II 2019

CNN Indonesia | Kamis, 11/04/2019 10:27 WIB
BRI Terbitkan Obligasi Rp6 Triliun pada Semester II 2019 Ilustrasi Gedung BRI. (Foto: CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) akan menerbitkan obligasi Rp6 triliun pada semester II 2019 nanti. Surat utang itu merupakan bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) I dengan total nilai Rp20 triliun.

Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengatakan penerbitan obligasi PUB I akan dilakukan secara bertahap dalam jangka waktu tiga tahun. Dana segar dari aksi korporasi tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas perusahaan.

"Total kan Rp20 triliun, tahun ini kira-kira rata-rata saja ya sekitar Rp5 triliun atau Rp6 triliun, dibagi tiga tahun ya Rp6 triliun lah," tutur Haru, Rabu (10/4).


Ia mengklaim penerbitan obligasi pada semester II tahun ini terbilang sudah tepat. Sebelumnya, perusahaan baru saja menerbitkan obligasi hijau (green bond) sebesar US$500 juta atau setara Rp7 triliun.


"Yang penting waktu penerbitannya, jumlah pastinya nanti lihat kebutuhan," tutur dia.

Sejak awal tahun, perusahaan sebenarnya sudah menginformasikan akan menerbitkan obligasi. Selain untuk menjaga tingkat likuiditas, sebagian dana itu juga akan digunakan untuk ekspansi bisnis.

Maklum, perusahaan memiliki beberapa rencana mengembangkan usahanya dengan mengakuisisi perusahaan asuransi dan membuka money changer di Arab Saudi. Namun, belum ada perkembangan yang pasti dari kedua rencana tersebut.

Secara keseluruhan, BRI menargetkan dapat meningkatkan penyaluran kredit sebesar Rp12-14 persen sepanjang 2019. Pada kuartal I ini, Haru menyatakan membukukan pertumbuhan kredit 12-14 persen dari kuartal I 2018 lalu.

Bila dihitung, jumlah penyaluran kredit kuartal I tahun ini sebesar Rp863,75 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp757,68 triliun. Kemudian, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) membaik di level 2,2 persen dari sebelumnya 2,46 persen.

[Gambas:Video CNN]
(aud/agt)