Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan skor INDI adalah acuan untuk mengukur kesiapan perusahaan untuk bertransformasi ke era industri 4.0.
Sebagai informasi, Industri 4.0 merupakan proses industri yang memanfaatkan teknologi jaringan internet, seperti Internet of Things, kecerdasan buatan, dan otomatisasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sebenarnya harapkan skor ini 4, tapi rata-ratanya baru 2,4," jelas Airlangga, Senin (15/4).
Dari seluruh sektor tersebut, perusahaan EPC memiliki skor paling tinggi yakni 2,74 dan industri logam dinilai memiliki kesiapan yang paling rendah yakni 1,57.
"Penilaian ini dilakukan secara mandiri (self assessment) dan menimbang lima indikator yakni manajemen dan organisasi, manusia dan budaya, produk dan layanan, teknologi, dan operasional pabrik. Perusahaan-perusahaan ini memang bergerak di sektor percontohan (light house) ketika kami me-launching making Indonesia 4.0 setahun lalu," tutur Airlangga.
Menurut dia, pengukuran kesiapan industri 4.0 sangat penting karena potensinya cukup besar. Berdasarkan perhitungan McKinsey, implementasi industri 4.0 di manufaktur bisa mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 1 hingga 2 persen, dan meningkatkan kontribusi manufaktur terhadap PDB menjadi 25 persen di 2025 mendatang.
Terlebih, penilaian seperti ini juga sudah dilakukan negara lain. Singapura, misalnya, memiliki indeks serupa dengan judul The Singapore Smart Industry Readiness Index dan Industri 4.0 Readiness yang dilakukan oleh Jerman.
"Implementasi industri 4.0 tetap kami dorong. Mencontoh Jerman, meski industri 4.0 sudah dilaksanakan sejak 2011, namun belum semua perusahaannya bisa mencapai tahap kesiapan sempurna," pungkas dia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan Indonesia memberikan porsi 19,82 persen terhadap PDB sepanjang 2018. Adapun, pertumbuhannya mencapai 4,25 persen secara tahunan, atau lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi 2018 5,17 persen.
[Gambas:Video CNN] (glh/lav)