Menperin Sebut Industri Masih Belum Siap Masuki Industri 4.0

CNN Indonesia | Selasa, 16/04/2019 09:02 WIB
Menperin Sebut Industri Masih Belum Siap Masuki Industri 4.0 Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. (Jababeka Tbk).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perindustrian mengakui industri di Indonesia belum terlalu siap untuk menjalankan industri 4.0. Hal itu berdasarkan indeks kesiapan industri 4.0 bertajuk Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI) 2019 yang dirilis Kemenperin pada hari ini, Senin (14/4).

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan skor INDI adalah acuan untuk mengukur kesiapan perusahaan untuk bertransformasi ke era industri 4.0.

Sebagai informasi, Industri 4.0 merupakan proses industri yang memanfaatkan teknologi jaringan internet, seperti Internet of Things, kecerdasan buatan, dan otomatisasi.


Dari penilaian yang dilakukan oleh 326 perusahaan, Airlangga menyebut skor INDI Indonesia ada di angka 2,4 dari rentang 0 sampai 4. Sesuai acuan tersebut, kesiapan industri Indonesia untuk bergerak ke arah industri 4.0 masih dalam tahap sedang. Dengan kata lain, industri di Indonesia tidak bisa dikatakan belum siap karena tidak memiliki skor 0, namun juga tidak bisa disebut matang karena tidak berada di angka 3.


"Kami sebenarnya harapkan skor ini 4, tapi rata-ratanya baru 2,4," jelas Airlangga, Senin (15/4).

Lebih lanjut, ia menuturkan skor INDI ini disusun bersama lembaga konsultan McKinsey and Company dan melibatkan 326 perusahaan yang bergerak di delapan sektor. Hal itu mencakup konstruksi dan persediaan (EPC), makanan dan minuman, kimia, aneka, elektronika, otomotif, dan logam.

Dari seluruh sektor tersebut, perusahaan EPC memiliki skor paling tinggi yakni 2,74 dan industri logam dinilai memiliki kesiapan yang paling rendah yakni 1,57.

"Penilaian ini dilakukan secara mandiri (self assessment) dan menimbang lima indikator yakni manajemen dan organisasi, manusia dan budaya, produk dan layanan, teknologi, dan operasional pabrik. Perusahaan-perusahaan ini memang bergerak di sektor percontohan (light house) ketika kami me-launching making Indonesia 4.0 setahun lalu," tutur Airlangga.


Menurut dia, pengukuran kesiapan industri 4.0 sangat penting karena potensinya cukup besar. Berdasarkan perhitungan McKinsey, implementasi industri 4.0 di manufaktur bisa mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 1 hingga 2 persen, dan meningkatkan kontribusi manufaktur terhadap PDB menjadi 25 persen di 2025 mendatang.

Terlebih, penilaian seperti ini juga sudah dilakukan negara lain. Singapura, misalnya, memiliki indeks serupa dengan judul The Singapore Smart Industry Readiness Index dan Industri 4.0 Readiness yang dilakukan oleh Jerman.

"Implementasi industri 4.0 tetap kami dorong. Mencontoh Jerman, meski industri 4.0 sudah dilaksanakan sejak 2011, namun belum semua perusahaannya bisa mencapai tahap kesiapan sempurna," pungkas dia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan Indonesia memberikan porsi 19,82 persen terhadap PDB sepanjang 2018. Adapun, pertumbuhannya mencapai 4,25 persen secara tahunan, atau lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi 2018 5,17 persen.

[Gambas:Video CNN] (glh/lav)