ANALISIS

Hasil Tebar Kartu, Jokowi 'Skak Mat' Prabowo di Quick Count

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 18/04/2019 15:07 WIB
Hasil Tebar Kartu, Jokowi 'Skak Mat' Prabowo di Quick Count Ekonom menilai kegemaran Jokowi menebarkan kartu-kartu bansos berbuah manis. Hasil hitung cepat (quick count) sukses mengunggulkan Jokowi-Ma'ruf. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Janji-janji pasangan Capres Petahana Joko Widodo (Jokowi)-Cawapres Ma'ruf Amin selama kampanye berbuah manis. Dalam hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei, pasangan nomor urut satu tersebut unggul atas Capres Prabowo Subianto-Cawapres Sandiaga Uno pada pemilihan presiden (pilpres) 2019.

Padahal, jika boleh dibandingkan, janji Prabowo-Sandi tak kalah manis. Tengoklah, janji soal penurunan tarif pajak, harga pangan murah, hingga harga Bahan Bakar Minyak (BBM), dan tarif listrik yang akan diturunkan dalam 100 hari kepemimpinannya.

Pun demikian, tetap saja masyarakat lebih memilih Jokowi, meskipun beberapa janji tak kunjung terealisasi. Janji pertumbuhan ekonomi 7 persen pada awal kepemimpinannya, misalnya. Kenyataannya, pertumbuhan ekonomi nasional mandek di kisaran 5 persen.

Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA Fitri Hari memperkirakan hitung cepat (quick count) memenangkan Jokowi karena masyarakat puas dengan kebijakan ekonomi, terutama yang terkait dengan kartu.


Berdasarkan survei yang dilakukannya, tingkat kesukaan masyarakat terhadap kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)-Kartu Indonesia Sehat (KIS) mencapai 93,4 persen. Tak cuma itu, Kartu Indonesia Pintar (KIP) juga 'mengambil hati' masyarakat dengan tingkat kepuasan 93,6 persen.

Diikuti Program Keluarga Harapan (PKH) dengan tingkat kepuasan masyarakat sekitar 92 persen. Ditambah lagi, kebijakan pembangunan infrastruktur yang masif, penyaluran dana desa, dan beras sejahtera. "Ini program-program yang dianggap populer dan sering didengar," ujarnya, Kamis (18/4).

Survei menempatkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Jokowi sebesar 69,5 persen. Sementara, 25,6 persen lainnya mengaku masih tak puas, 4,9 persen mengaku tak tahu. "Jadi, masyarakat puas dengan enam kebijakan yang diluncurkan Jokowi," terang Fitri.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara menilai janji-janji Jokowi di bidang ekonomi tak muluk-muluk, bahkan realistis. Sementara, janji penantangnya, Prabowo, dianggap kurang realistis.

Hasil Tebar Kartu, Jokowi 'Skak Mat' Prabowo di Quick CountInfografis janji capres pada pilpres 2019. (CNN Indonesia/Fajrian).

Sebutlah, janji Prabowo yang menginginkan agar tarif Pajak Penghasilan (PPh) badan diturunkan. Lalu, menaikkan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Namun, di sisi lain, Prabowo berhasrat menaikkan rasio pajak terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau tax ratio hingga 16 persen.

Kebijakan yang kurang masuk akal itu, kata Bhima, akhirnya membuat swing voters malas memberikan dukungan ke Prabowo.

"Dan selama beberapa bulan kampanye, masyarakat tidak diberitahu langkah konkret Prabowo untuk mencapai tujuan tersebut. Narasi yang membingungkan ini malah lama-kelamaan membuat masyarakat jenuh," terang dia.


Memang, Jokowi pun tak sempurna. Beberapa janji makroekonomi yang dilontarkannya tak tercapai, namun hanya segelintir golongan saja yang memperhatikan hal itu. Di golongan bawah, masyarakat hanya peduli program yang masuk akal dan bisa menaikkan tarif hidup mereka.

"Masyarakat level desa ini siap sih yang peduli dengan pertumbuhan ekonomi? Mereka (masyarakat bawah) tidak peduli dengan itu, sementara Jokowi ini programnya tidak muluk-muluk," jelasnya.


[Gambas:Video CNN] (bir)