Mengkritisi Lonjakan Pendapatan Lain-Lain Garuda

CNN Indonesia | Sabtu, 27/04/2019 12:12 WIB
Mengkritisi Lonjakan Pendapatan Lain-Lain Garuda Pesawat Garuda Indonesia. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada yang menarik dari laporan keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) periode kuartal I 2019. Perusahaan meraup kenaikan pendapatan lain-lain yang fantastis dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Pendapatan lain-lain perusahaan melonjak hingga 8.914 persen. Pada kuartal I 2018 jumlahnya hanya US$306,93 ribu, tapi kuartal I 2019 mencapai US$27,67 juta.

Pendapatan lain-lain itu termasuk sebagai sub pada pos pendapatan usaha Garuda Indonesia. Selain itu, pendapatan Garuda hanya disumbang pendapatan penerbangan berjadwal dan penerbangan tidak berjadwal.


Pendapatan lain-lain Garuda Indonesia, terdiri dari pendapatan atas pemeliharaan dan perbaikan pesawat, pelayanan penerbangan, biro perjalanan, jasa boga, groundhandling, fasilitas, hotel, transportasi, teknologi informasi, pelatihan, kesehatan, dan lain-lain. Nah, pos sub pendapatan lain-lain dari pendapatan lain-lain inilah yang secara persentase pertumbuhannya melesat dibandingkan dengan yang lain.


Realisasi itu berbeda jauh dibandingkan dengan periode kuartal I pada 2017 dan 2018 lalu. Kenaikan sub pendapatan lain-lain di pos pendapatan lain-lain pada 2017 naik 28,48 persen menjadi US$401.424, sedangkan 2018 justru jeblok 23,53 persen menjadi US$306.932.

Senior Vice President Royal Investium Sekuritas Janson Nasrial mengatakan pendapatan lain-lain umumnya berasal dari pendapatan bunga, pendapatan dividen, dan divestasi unit usaha lainnya. Dengan kata lain, pendapatan itu bukan berasal dari bisnis inti Garuda Indonesia sebagai maskapai penerbangan.

"Pendapatan memang naik tapi tidak berkelanjutan (sustainable) karena hanya bersifat 'one time off only', jadi pendekatan inti saja," ungkap Janson kepada CNNIndonesia.com, Jumat (26/4).

Makanya, Janson menyarankan investor tetap fokus pada pendapatan utama perusahaan. Sebab, hal itulah yang akan mendongkrak kinerja secara rutin.


Sementara, Ketua Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) Tarkosunaryo mengatakan dari sisi ilmu akuntansi, pendapatan lain-lain merupakan pendapatan yang berasal dari nonkegiatan utama perusahaan. Jika maskapai penerbangan, berarti bisnis utamanya berasal dari penjualan tiket.

"Tapi apakah kemudian pencatatan pendapatan Garuda Indonesia itu benar atau tidak, saya tidak bisa menilai," terang dia.

Manajemen tak menjelaskan detil penyebab lonjakan sub pendapatan tersebut. Namun, jika ditelisik lebih jauh, hal itu terjadi setelah Garuda Indonesia mulai bekerja sama dengan PT Mahata Aero Teknologi (Mahata) pada Oktober 2018 lalu dan diperbaharui Desember 2018.
[Gambas:Video CNN]
Kerja sama itu terkait dengan penyediaan layanan konektivitas dalam penerbangan dan hiburan dalam pesawat dan manajemen konten. Mahata sepakat untuk menanggung seluruh biaya penyediaan, pelaksanaan, pemasangan, pengoperasian, perawatan, pembongkaran, dan pemeliharaan peralatan layanan konektivitas dalam penerbangan.

Dalam dokumen yang didapatkan awak media saat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Garuda Indonesia di Hotel Pullman, Rabu (24/4) kemarin, tertulis dua komisaris menolak menandatangani laporan keuangan 2018. Kerja sama antara Garuda Indonesia dengan Mahata menjadi alasan dua komisaris melakukan hal tersebut.

Dua komisaris yang dimaksud adalah Chairal Tanjung dan Dony Oskaria PT Trans Airways dan Finegold Resources Ltd selaku pemilik dan pemegang 28,08 persen saham Garuda Indonesia.


Mereka menyebutkan bahwa Mahata belum membayar USU$239,94 juta sebagai hak pendapatan yang diterima perusahaan dari kerja sama tersebut. Namun, manajemen sudah mengakui itu sebagai pendapatan dari yang seharusnya di pos piutang.

Dalam buku laporan kuartal I 2019, tertulis piutang Mahata sebesar US$233,13 juta. Angkanya sama dengan seperti jumlah piutang Mahata pada Desember 2018.

Secara keseluruhan, Garuda Indonesia meraup laba bersih sebesar US$20.480.576 pada kuartal I 2019. Realisasi itu berbanding terbalik dengan posisi kuartal I 2018 yang merugi sebesar US$65.344.370.

Dari sisi pendapatan, totalnya menyentuh US$1,09 juta atau naik 11,85 persen dari sebelumnya US$983 juta. Bila dirinci, pendapatan itu berasal dari pos penerbangan berjadwal sebesar US$92,93 juta, penerbangan tidak berjadwal US$2,86 juta dan pos lainnya US$171,75 juta. (aud/agi)