Gara-Gara Mahakam, Lifting Migas Per Akhir April Tak Tercapai

CNN Indonesia | Rabu, 08/05/2019 21:21 WIB
Gara-Gara Mahakam, Lifting Migas Per Akhir April Tak Tercapai Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan sampai dengan Apri, target lifting minyak belum tercapai. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mengatakan produksi minyak siap jual (lifting) hingga April 2019 masih di bawah target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tercatat, lifting migas masih tercatat 1,92 juta setara barel minyak per hari (BOEPD).

Lifting tersebut masih  di bawah target yakni 2,02 juta BOEPD. Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto merinci total lifting minyak mencapai 749.584 barel per hari atau lebih rendah dari target 775 ribu barel per hari.

Kontributor utama lifting masih tetap berasal dari Blok Cepu yang dikelola ExxonMobil Cepu Ltd sebesar 219.209 barel per hari, Blok Rokan yang dikelola PT Chevron Pacific Indonesia sebesar 195.753 barel per hari, dan PT Pertamina EP sebesar 79.340 barel per hari.


Kontribusi dua blok tersebut sayang tak diikuti yang lainnya. Pasalnya, ada beberapa Wilayah Kerja (WK) yang tidak berpoduksi secara maksimal.


PT Pertamina Hulu Energi OSES, misalnya, hanya menghasilkan lifting 28.577 per barel atau hanya 89 persen dari target 32 ribu barel per hari. Lalu, blok Offshore North West Java (ONWJ) juga hanya menghasilkan lifting 28.646 barel per hari atau hanya 87 persen dari target 33.090 barel per hari.

Kemudian, SKK Migas juga mencatat lifting yang paling tak optimal di Blok Mahakam yang dikelola PT Pertamina Hulu Mahakam. Hingga akhir April, Blok Mahakam hanya menghasilkan lifting 42.717 barel per hari atau hanya 85 persen dari target APBN 50.400 barel per hari.

"Ini karena Blok Mahakam belum selesai mengebor sumur-sumurnya. Tahun ini, mereka berencana mengebor 118 sumur, tapi baru selesai 30 sumur. Dan dari 30 sumur itu, baru 20 yang sudah onstream," jelas Dwi, Rabu (8/5).

Sementara untuk gas, realisasi penyaluran gas tercatat 5.909 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) atau 84 persen dari target APBN yakni 7.000 MMSCFD. Kontribusi lifting utama berasal dari Blok Tangguh yang dikelola BP Berau Ltd sebesar 912 MMSCFD, Blok Mahakam sebesar 667 MMSCFD, dan Blok Corridor yang dikelola ConocoPhillips Grissik Ltd sebesar 834 MMSCFD.

[Gambas:Video CNN]

Lagi-lagi, SKK Migas mencatat Blok Mahakam sebagai blok yang lifting-nya paling tak optimal. Angka lifting per akhir April sebesar 667 MMSCFD ini hanya terbilang 61 persen dari target APBN 1.100 MMSCFD. Dalam hal ini, Dwi melihat tingkat penurunan produksi gas (decline rate) Blok Mahakam sudah menurun tajam.

Dan dari beberapa sumur yang sudah dibor di sana, itu belum online. Kami sudah koordinasi dengan Pertamina agar investasinya bisa di speed up," jelas dia.

Kendati demikian, ia berharap lifting migas masih berjalan sesuai jalur setelah 11 proyek migas diharapkan bisa berjalan di tahun ini. Dari 11 proyek tersebut, tambahan produksi migas diharapkan bisa mencapai 13.587 BOEPD.

Proyek tersebut terdiri dari Terang Sirasun Batur Fase 2 yang dikelola Kangean Energy Indonesia Ltd, Seng Segat yang dikelola EMP Bentu Ltd, Ario-Damar-Sriwijaya Fase 2 milik PT Tropik Energi Pandan, Suban Compression yang dikelola ConocoPhillips Grissik Ltd, proyek YY yang dikelola PHE ONWJ, dan Bukit Tua fase 3 yang dikelola Petronas Carigali Ketapang II Ltd.


Setelah itu, ada Buntal-5 yang dikelola oleh Medco E&P Natuna Ltd, Bison-Iguana-Gajah Puteri yang dikelola Premier Oil Natuna Sea BV, proyek Temelat yang dikelola PT Medco E&P Indonesie, Proyek Panen yang dikelola PetroChina International Jabung Ltd, dan Kedung Keris yang dikelola ExxonMobil Cepu Ltd.

"Dengan tambahan produksi mencapai 13.587 BOPD dan gas sebanyak 1.172 MMSCFD, kami optimistis pada akhir tahun target lifting dapat tercapai," pungkas dia.
(glh/agt)