IMF Bakal Hadiri Pertemuan Bahas Perdamaian Israel-Palestina

CNN Indonesia | Jumat, 07/06/2019 13:47 WIB
IMF Bakal Hadiri Pertemuan Bahas Perdamaian Israel-Palestina Lembaga-lembaga keuangan multilateral dunia, termasuk IMF dan Bank Dunia berencana hadir pada konferensi perdamaian Israel-Palestina bulan ini yang digelar AS. (ANTARA FOTO/ICom/AM IMF - WBG/Afriadi Hikmal).
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga-lembaga keuangan multilateral dunia, termasuk IMF dan Bank Dunia berencana hadir pada konferensi yang dipimpin Amerika Serikat (AS) terkait ekonomi Palestina pada bulan ini. Pemerintahan Trump saat ini menawarkan untuk menjadi penengah dan mendorong perdamaian antara Israel dengan Palestina.

Pertemuan yang rencananya akan digelar pada 25-26 Juni di Bahrain ini diragukan banyak pihak, sejak para pimpinan dan pengusaha Palestina memutuskan tak hadir. AS selama ini dipersepsikan pro terhadap Israel dan tidak memerhatikan tuntutan politik mereka.

Pemilihan umum yang baru dilaksanakan di Israel meningkatkan perselisihan pada lintas perbatasan kedua negara. Palestina juga menyalahkan AS karena mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.


Bagaimanapun, IMF yang beroperasi di Tepi Barat dan Gaza sejak 1995 mengkonfirmasi kedatangannya ke pertemuan tersebut. Lembaga keuangan multilateral lainnya juga mengkonfirmasi bakal hadir di Bahrain, Manama.


"IMF telah diundang ke pertemuan dan mengharapkan untuk hadir, bersama dengan lembaga keuangan internasional lainnya," kata seorang perwakilan, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (7/6).

Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (EBRD) mengkonfirmasi akan ada perwakilan dari lembaga tersebut. Juru bicara Bank Dunia juga mengatakan pihaknya mendapat undangan dan mengharapkan untuk berpartisipasi.

Pemberi pinjaman dan bank pembangunan telah lama memainkan peran stabilisasi dalam konflik Israel-Palestina, memberikan pinjaman, jaminan kredit, dan saran kebijakan kepada Otoritas Palestina (PA) yang didukung Barat.

Penasihat senior Gedung Putih Jared Kushner minggu ini menyebut perjalanan ke Timur Tengah dan Eropa bertujuan untuk menggalang dukungan bagi konferensi Perdamaian untuk Kesejahteraan yang dimaksudkan untuk mengungkap bagian ekonomi dari rencana perdamaian Trump yang telah lama digembar-gemborkan.


Namun, para pejabat Palestina dan Arab mencurigai peristiwa itu mungkin merupakan awal dari dorongan AS untuk membuang solusi dua negara, formula internasional lama untuk negara Palestina merdeka bersama Israel di Tepi Barat, Yerusalem Timur dan Gaza.

Cetak biru negara kembar telah menjadi dasar selama puluhan tahun pemberian pinjaman dan dukungan teknis dari lembaga keuangan global, yang bertujuan untuk membangun kapasitas kementerian pemerintah Palestina dan sektor swasta.

Meskipun Arab Saudi dan Uni Emirat Arab berencana untuk menghadiri konferensi Bahrain, mereka telah meyakinkan Palestina bahwa mereka tidak akan mendukung rencana AS yang gagal memenuhi tuntutan utama mereka.


Wakil menteri luar negeri Tzipi Hotovely mengatakan dalam sebuah wawancara radio akhir pekan menyebut "orang Israel" akan berada di sana, tetapi tidak jelas apakah dia merujuk pada pejabat atau delegasi bisnis.

Sementara musuh lama Israel, Iran, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei memarahi Arab Saudi dan Bahrain karena memungkinkan rencana AS tersebut.

"Pertemuan ini adalah milik Amerika, tetapi penguasa Bahrain menjadi tuan rumah karena kelemahan mereka dan sikap anti-Muslim dan anti-populer," katanya dalam sebuah khotbah yang disiarkan televisi.
[Gambas:Video CNN] (Reuters/agi)