Tekanan Bunga Reda, Sri Mulyani Pede Investasi Bakal Terkerek

CNN Indonesia | Selasa, 11/06/2019 13:59 WIB
Tekanan Bunga Reda, Sri Mulyani Pede Investasi Bakal Terkerek Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah melihat peluang untuk mendongkrak investasi pada paruh kedua tahun ini, di tengah risiko kenaikan suku bunga global yang mereda.

"Pada semester II, kami berharap dengan suku bunga cenderung turun tapi lingkungan perekonomian global melemah. Kami mungkin bisa menggunakan untuk mendongkrak investasi karena tekanan dari kenaikan suku bunga sudah lebih rendah," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Gedung Djuanda I Kemenkeu, Selasa (11/6).

Wanita yang akrab disapa Ani ini mengungkapkan bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserves (The Fed) telah mengakui risiko ekonomi domestik dan global semakin besar.


Hal itu membuka kemungkinan AS akan menahan suku bunga acuannya. Bahkan, sejumlah ekonom memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya dua kali pada akhir tahun ini.


Di sisi lain, dalam pertemuan negara-negara G20 beberapa waktu lalu, isu perang dagang antara AS-China masih menjadi perhatian. Peningkatan risiko terjadi pada Mei lalu.

Dalam hal ini, China ingin menyelesaikan perselisihan keduanya dalam kerangka multilateral sedangkan AS ingin menyelesaikan secara bilateral. Hingga kini, kedua negara belum menemukan titik temu untuk menyelesaikan sengketa tersebut.

"Di dalam keseluruhan pembahasan di G20, risiko global yang menekan (downside risk) itu terealisasi," ujarnya.

Tak ayal, sejumlah lembaga internasional seperti IMF, OECD, dan Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini.


"Kalau di IMF (proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2019) 3,3 persen. Ini sudah lebih rendah 0,5 persen dari proyeksi awal untuk 2019. Di Bank Dunia juga penurunannya sama," ujarnya.

Laju perdagangan internasional pun ikut terseret hingga ke level 2,6 persen, terendah sejak 2008. Padahal, pada saat ekonomi tumbuh sehat, pertumbuhan perdagangan internasional bisa dua kali lipatnya.

"Jadi kalau sekarang ekonomi tumbuh 3,3 persen dulu (pertumbuhan perdagangan) bisa mencapai 5 atau bahkan 6 persen. Sekarang hanya kan tumbuh 2,6 persen," ujarnya.

Melihat hal itu, ekspor Indonesia akan menghadapi tantangan dari sisi permintaan global. Maka itu, pemerintah terus berupaya untuk membuka pasar baru dan tidak bergantung pada negara tradisional.


Di sisi suplai, Indonesia juga harus meningkatkan daya saing misalnya dari bahan baku, produktivitas, efisiensi, dan ketersediaan infrastruktur.

Ani mengingatkan keputusan untuk berinvestasi tak semata dari rendahnya suku bunga namun juga prospek yang akan dihasilkan.

Menurut Ani, dengan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen , Indonesia cukup percaya diri untuk menjadi destinasi investor. Meski demikian, pemerintah tetap harus menjaga motor penggerak ekonomi yang berasal dari permintaan domestik.

Ke depan, pemerintah siap mengubah bauran kebijakan ekonomi untuk merespon dinamika perekonomian global pada paruh kedua 2019. Namun, Ani belum merinci perubahan bauran kebijakan yang akan dilakukan nanti.

[Gambas:Video CNN] (sfr/lav)