Rupiah Sore Ini Melemah Tipis ke Rp14.241 per Dolar AS

CNN Indonesia | Rabu, 12/06/2019 17:07 WIB
Rupiah Sore Ini Melemah Tipis ke Rp14.241 per Dolar AS Ilustrasi dolar AS. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.241 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan di pasar spot sore ini, Rabu (12/6). Posisi ini melemah 3 poin atau 0,02 persen dari Selasa (11/6) di Rp14.238 per dolar AS.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.234 per dolar AS atau menguat dari posisi kemarin di Rp14.258 per dolar AS.

Di kawasan Asia, sejumlah mata uang turut terperosok ke zona merah. Won Korea Selatan melemah 0,18 persen, yuan China minus 0,12 persen, dan peso Filipina minus 0,09 persen.   


Sementara mata uang lainnya justru menguat. Ringgit Malaysia menguat 0,08 persen, baht Thailand 0,11 persen, dolar Hong Kong 0,17 persen, rupee India 0,19 persen, dan yen Jepang 0,22 persen. Adapun dolar Singapura stagnan.


Di sisi lain, mayoritas mata uang negara utama melemah terhadap dolar AS. Rubel Rusia melemah 0,38 persen, dolar Australia minus 0,17 persen, dan dolar Kanada minus 0,11 persen. Namun, poundsterling Inggris berhasil berlabuh ke zona hijau dengan menguat 0,11 persen dan franc Swiss menguat 0,07 persen. Sementara euro Eropa stagnan.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim menilai rupiah melemah tipis karena sentimen positif dari domestik mulai memudar, yaitu kenaikan peringkat kredit utang Indonesia dari S&P. Begitu juga dengan tingkat inflasi yang stabil.

Meski begitu, muncul sentimen lain yang belum bisa mempengaruhi pergerakan rupiah, yaitu penurunan tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Sayangnya, kata Ibrahim, hal ini belum terjadi, sehingga belum menggerakkan rupiah di pasar uang.

"BI dipandang perlu segera menurunkan suku bunga acuan dalam tahun ini guna kembali mengikuti langkah-langkah kebanyakan bank sentral negara lain untuk menjaga keseimbangan pasar," ungkapnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (12/6).


Menurutnya, pasar mendesak penurunan tingkat suku bunga acuan sebagai langkah untuk mendapatkan sumber likuiditas yang lebih murah untuk menggerakkan roda perekonomian.

Dari sisi eksternal, Ibrahim melihat rupiah terperosok ke zona merah karena pengaruh sejumlah sentimen. Pertama, sentimen suntikan operasi pasar terbuka senilai US$5,06 miliar oleh bank sentral China.

Kemudian, ada pengaruh dari sentimen ekspektasi pasar terhadap kelanjutan Brexit dan kebijakan bank sentral Eropa ke depan. Tak ketinggalan, ada pula pengaruh dari spekulasi penurunan tingkat suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve.

"Gubernur The Fed Jerome Powell telah mengisyaratkan bank akan bertindak untuk mempertahankan ekspansi. Namun, pertemuan baru akan dilangsungkan pada 18-19 Juni mendatang," pungkasnya. 

[Gambas:Video CNN] (uli/agi)