Proyek Jalur Sutera Perlu Diawali Infrastruktur 'Lunak'

CNN Indonesia | Rabu, 26/06/2019 11:17 WIB
Proyek Jalur Sutera Perlu Diawali Infrastruktur 'Lunak' Presiden Joko Widodo dan pemimpin sejumlah negara dalam forum Jalur Sutera Baru. (Biro Pers Setpres/ Laily Rachev).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sentimen negatif terhadap pelaksanaan program jalur sutera atau Belt Road Initiative (BRI) bisa diredam jika kerja sama dengan China tidak hanya mengedepankan investasi infrastruktur 'keras', tetapi diawali peningkatan infrastruktur 'lunak' yang menyentuh masyarakat (people to people/PtoP).

Hal itu diungkap oleh Peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS) Fajar Bambang Hirawan dalam The Second Jakarta Forum on Asean-China Relations di Gedung Habibie Center, Selasa (25/6).

Menurut dia, memperbaiki persepsi negatif terhadap China di Indonesia tidak mudah. Mengutip hasil survei CSIS dua tahun lalu, Fajar mengungkapkan milenial memiliki persepsi bahwa China merupakan salah satu negara yang dikhawatirkan tidak berpengaruh positif ketika berhubungan dengan Indonesia. Padahal, persepsi itu bisa jadi muncul karena masyarakat tidak mengenal China dengan benar.


"Ibarat tak kenal maka tak sayang, karenanya PtoP harus diprioritaskan," ujar Fajar.


Penguatan kerja sama PtoP dapat berupa kerja sama riset maupun pendirian pusat studi Indonesia-China, sehingga dapat meningkatkan pemahaman antara satu sama lain.

"Kita lihat apa yang terjadi pada Pilpres kemarin, ada anti China, China dianggap sebagai neokolonialisme baru. Padahal, uang China tidak ke sini saja, banyak juga ke Amerika Serikat (AS)," ujarnya.

Menurut Fajar, kerja sama antara Indonesia-China dapat saling menguntungkan apabila didasari dengan visi yang jelas dan semangat untuk menciptakan kemakmuran bersama.

Bagi Indonesia, China dapat membantu pembangunan infrastruktur yang membutuhkan dana hingga ribuan triliun rupiah. Pembangunan tersebut membutuhkan investasi dari sektor swasta, tidak hanya mengandalkan dari pemerintah dan BUMN.


Maka itu, Indonesia-China harus merumuskan skema kerja sama yang jelas dan mampu menguntungkan satu sama lain. Sebagai negara yang berdaya, Fajar yakin Indonesia memiliki daya tawar untuk menjaga agar investasi dari China tidak merugikan.

Salah satu kerja sama yang menurut Fajar berhasil adalah pengembangan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Selain membangun perekonomian daerah setempat, proyek ini juga mampu menyerap banyak tenaga kerja lokal.

Di tempat yang sama, Executive Vice President China Institute of International Studies Ruan Zongze mengungkapkan BRI merupakan rangkaian sejumlah proyek kerja sama multinasional yang dirancang agar menguntungkan negara-negara yang terlibat. Untuk itu, China tidak ingin mendominasi tetapi ingin mengajak kolaborasi.

"Karena ini merupakan kerja sama maka apa yang dipikirkan oleh China hanya salah satu bagian saja," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

Dengan semakin banyak negara yang terlibat, lanjut Zongze, China bisa mendiversikasi risiko penempatan investasinya di dunia. Di saat yang sama, keuntungan dari investasi yang ditempatkan China juga dirasakan oleh negara-negara mitranya.

"BRI membutuhkan skenario 'win-win' yang menguntungkan bersama. Jika tidak ada 'win-win', (BRI) tidak akan berkelanjutan dan memiliki masa depan," ujarnya. (sfr/lav)