Manufaktur AS Sentuh Level Terendah dalam 3 Tahun Terakhir

CNN Indonesia | Selasa, 02/07/2019 11:50 WIB
Manufaktur AS Sentuh Level Terendah dalam 3 Tahun Terakhir Presiden AS Donald Trump. (REUTERS/Carlos Barria).
Jakarta, CNN Indonesia -- Aktivitas manufaktur Amerika Serikat (AS) pada bulan lalu menyentuh level terendahnya dalam 32 bulan terakhir atau nyaris tiga tahun terakhir. Perlambatan manufaktur didorong oleh melemahnya permintaan.

Seperti dilansir AFP, Selasa (2/7), survei bulanan Supply Management AS melansir pabrik mengurangi produksi mereka karena kekhawatiran bahwa barang-barang tidak akan laku terjual.

Hasil survei tersebut bertepatan dengan penurunan drastis manufaktur regional setelah Presiden AS Donald Trump menarik ancaman pengenaan tarif pada impor Meksiko, dan krisis pemesanan pesawat buatan Boeing.

Indeks manufaktur nasional ISM tercatat turun 0,4 poin ke level terendah sejak Oktober 2016 lalu, menjadi 51,7 persen. Hal ini juga tampak dari landainya pesanan, pengiriman, persediaan, dan impor baru.


Ketua Survei Manufaktur ISM Timothy Fiore bilang penurunan yang stabil dan pelemahan permintaan memang mengganggu. "Kami turun lebih cepat daripada penurunan empat ekspansi terakhir. Biasanya kita turun, naik kembali, turun, naik lagi. Tetapi, tidak kali ini," ujarnya.

Sebetulnya, ia melanjutkan pemulihan ekonomi AS mulai terlihat usai 10 tahun krisis keuangan global menerpa. Namun, ekspansi ekonomi tersebut diperkirakan tak berlangsung lama, mengingat kebijakan perdagangan Trump yang agresif dan tidak dapat diprediksi.

Awal bulan lalu, Trump menarik ancaman penerapan tarif pada impor Meksiko. Survei melansir responden mengeluhkan tarif di sektor elektronik, produk kimia, bahan bakar fosil, mesin, dan barang logam.
[Gambas:Video CNN]
"Tarif China dan tarif Meksiko yang tertunda menimbulkan kekacauan di rantai pasokan dan biaya. Situasi ini gila," tutur seorang responden.

Akhir pekan lalu, saat bertemu Presiden China Xi Jinping di KTT G20 di Osaka, Jepang, Trump sepakat untuk tidak melanjutkan tarif selangit untuk impor produk dan jasa senilai US$300 miliar.

Sementara itu, aktivitas pabrik di China juga dikabarkan menyusut. Survei yang dilakukan Reuters melansir perlu lebih banyak stimulus guna menangkal dampak dari perang dagang.


Menurut data Indeks Manajer Pembelian (PMI) soal pertumbuhan output pabrik China, sub-indeks turun menjadi 51,3 dari 51,7 pada Mei lalu. Indeks penurunan total pesanan meningkat menjadi 49,6 dari sebelumnya 49,8. (AFP/bir)