Jalan Panjang Destry Damayanti Jadi Orang Nomor Dua di BI

CNN Indonesia | Kamis, 11/07/2019 17:30 WIB
Jalan Panjang Destry Damayanti Jadi Orang Nomor Dua di BI Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Destry Damayanti akhirnya dipilih Deputi Gubernur Bank Indonesia (BImenggantikan kursi yang ditinggalkan oleh Mirza Adityaswara yang menyelesaikan masa tugas pada bulan ini. Melalui sebuah proses panjang akhirnya DPR akhirnya menyetujuinya menjadi orang nomor dua di BI Kamis (11/7) ini.

Terpilihnya Destry sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang mengejutkan. Maklum, Destry memang menjadi satu-satunya calon yang diusung Presiden Jokowi untuk menjadi deputi gubernur BI.

Selain menjadi calon tunggal, rekam jejak Destry pun cukup mendukung keterpilihannya. Destry yang saat ini menduduki kursi Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memiliki riwayat hidup alias curriculum vitae yang berbobot. Khususnya, di sektor keuangan.


Bahkan, boleh dibilang, perempuan kelahiran Jakarta, 16 Desember 1963 itu telah mengabdikan hidupnya bagi sektor keuangan.


Hal itulah yang membuat Wakil Ketua Komisi XI DPR Achmad Hafisz Tohir, salah satu penguji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) pencalonan Destry, cukup yakin dengan calon yang disodorkan Jokowi itu. Bagi Hafisz, pengalaman dan pengabdian Destry di sektor ini layak membawanya berlabuh ke kursi pejabat bank sentral nasional.

"Destry sudah memenuhi kriteria (sebagai Deputi Gubernur BI), ia memiliki sepak terjang sekitar 20 tahun di sektor tersebut. Sudah di sektor keuangan dan industri, bahkan terakhir ada di LPS," ujar Hafisz di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (10/7).

Sebelum memulai karirnya, Destry membekali diri dengan gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia (UI). Kemudian, ia menambah portofolio pendidikan dengan mengantongi gelar Master of Science dari Cornell University di New York, Amerika Serikat.

Sementara perjalanan karir Destry dimulai dari Badan Analisa Keuangan dan Moneter (BAKM) pada medio 1992 hingga 1997. Ia dipercaya menjadi bagian dari badan keuangan yang berada di bawah Kementerian Keuangan.


Usai menjajal karir di pemerintahan, Destry kemudian mencicip karir di sektor keuangan swasta. Ia melompat ke Citibank Indonesia sejak 1997 hingga 2000. Ia mengisi jabatan sebagai salah satu ekonom bank swasta itu.

Setelah dari Citibank, Destry didapuk menjadi Senior Economic Advisor di Kedutaan Besar Kerajaan Inggris untuk Indonesia untuk periode 2000-2003. Tak hanya menjadi praktisi di pemerintahan, swasta, dan lembaga internasional, Destry juga melengkapi CV-nya dengan bergelut di bidang akademisi.

Ia pernah menjadi peneliti sekaligus pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI pada rentang 2005-2006. Lepas dari karir akademisi, ia kembali ke jalur praktisi dengan menjajal lagi jabatan ekonom.

Pada 2005-2011, ia menjabat sebagai Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas. Setelah itu, meloncat ke induk perusahaan, Bank Mandiri sebagai Kepala Ekonom untuk masa jabatan 2011-2015. Pada saat itu pula, ia turut menjabat sebagai Direktur Eksekutif di Mandiri Institute.

[Gambas:Video CNN]

Di sela karir ekonomnya, Destry sempat mengemban tugas menjadi Ketua Satuan Tugas Ekonomi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada 2014-2015. Selain itu, ia juga pernah menjadi sorotan ketika dipilih Jokowi menjadi Ketua Panitia Seleksi (Pansel) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama delapan orang anggota lainnya.

Destry menjadi Ketua Pansel KPK ketika lembaga antirasuah itu perlu menunjuk pimpinan baru usai ditinggal Abraham Samad dan Bambang Widjojanto. Hasilnya, Pansel KPK di bawah pimpinannya menunjuk Agus Rahardjo sebagai Ketua KPK baru.

Setelah urusan Pansel KPK selesai, Destry lagi-lagi ditunjuk Jokowi untuk menempati jabatan baru. Ia dipercaya menjadi salah satu Anggota Dewan Komisioner LPS sejak 24 September 2015 lalu sampai saat ini.


(uli/agt)