Rupiah dan Mata Uang Asia Kompak Loyo Kena Sentimen Brexit

CNN Indonesia | Selasa, 23/07/2019 16:37 WIB
Rupiah dan Mata Uang Asia Kompak Loyo Kena Sentimen Brexit Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp13.985 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Selasa (23/7) sore. Angka itu melemah 0,3 persen dibandingkan penutupan Senin (22/7) yakni Rp13.943 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp13.973 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp13.963 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah berada di rentang Rp13.955 per dolar AS hingga Rp13.986 per dolar AS.

Sore hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS. Rupee India melemah 0,03 persen, won Korea Selatan melemah 0,06 persen, peso Filipina melemah 0,11 persen, dan ringgit Malaysia melemah melemah 0,12 persen.


Kemudian, baht Thailand melemah 0,22 persen, dolar Singapura melemah 0,22 persen, dan yen Jepang melemah 0,29 persen. Di sisi lain, dolar Hong Kong malah menguat 0,01 persen dan yuan China menguat 0,03 persen.


Tak berbeda jauh, mata uang negara maju juga melemah terhadap dolar AS. Dolar Australia melemah 0,14 persen, euro melemah 0,25 persen, dan poundsterling Inggris melemah 0,4 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah masih disebabkan oleh sentimen global. Pertama, kemungkinan Boris Johnson menjadi Perdana Menteri Inggris kian terbuka. Hal ini menakutkan pelaku pasar, mengingat Johnson berencana menceraikan Inggris dari Uni Eropa Oktober mendatang tanpa ada kesepakatan perdagangan (no-deal Brexit).

Di sisi lain, kondisi geopolitik di Timur Tengah memancing pelaku pasar untuk melarikan asetnya ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS. Ini mengingat ketegangan AS dan Iran yang kian sengit setelah Iran mulai mengawasi semua kapal yang keluar-masuk kawasan teluk.

"Jika tensi terus tinggi seperti ini, bukan tidak mungkin ada pihak yang 'khilaf'. Risiko konflik bersenjata alias perang tidak bisa dihapus begitu saja. Ini tentu membuat pelaku pasar was-was dan ogah mengambil risiko," jelas Ibrahim, Selasa (23/7).
[Gambas:Video CNN] (glh/lav)