Malaysia Lanjutkan Proyek Rp139 T Hasil Pinjaman China

CNN Indonesia | Kamis, 25/07/2019 14:22 WIB
Malaysia Lanjutkan Proyek Rp139 T Hasil Pinjaman China Ilustrasi Malaysia. (Istockphoto/bee32).
Jakarta, CNN Indonesia -- Malaysia kembali melanjutkan pembangunan proyek kereta api cepat East Coast Rail Link (ECRL) bernilai US$10 miliar atau Rp139,79 triliun (kurs Rp13.977 per dolar AS) yang didanai dengan pinjaman China Kamis (25/7). Menteri Transportasi Malaysia Anthony Loke mengatakan proyek tersebut penting. 

Keberadaan jalur kereta api  sepanjang 640 kilometer yang akan menghubungkan bagian timur laut Malaysia dengan pelabuhan utama negara yang terletak di bagian barat negara tersebut diyakininya akan memperbaiki keterhubungan di daerah yang dilalui jalur kereta tersebut. 

"Jalur kereta tersebut akan memperbaiki sistem transportasi di daerah yang dilintasi, terutama di sepanjang Pesisir Timur Semenanjung Malaysia," katanya seperti dikutip dari AFP, Kamis (25/7).


Kereta ECRL merupakan bagian dari  proyek jalur sutera modern yang masuk dalam Belt and Road Initiative China. Proyek tersebut direncanakan pada masa pemerintahan Perdana Menteri Nazib Razak.

Proyek tersebut sempat memantik kritik. Sejumlah kalangan menganggap bahwa proyek tersebut penuh permainan dan bisa menjatuhkan Malaysia ke dalam kubangan hutang. 

Proyek juga dinilai sebagai jalan yang dibuat oleh Nadjib Razak untuk memudahkannya dalam mendapatkan uang guna membayar kembali uang tunai yang dijarahnya dari lembaga investasi Malaysia 1MDB.

Atas kritik dan masalah tersebut, pemerintah Malaysia di bawah Mahathir Mohamad beberapa waktu lalu sempat memutuskan untuk menghentikan proyek tersebut. Penghentian dilakukannya karena ia merasa proyek tersebut bisa memiskinkan Malaysia.

Pasalnya, investasi sebesar Rp139 triliun yang digunakan untuk pembangunan proyek berasal dari pinjaman China. Namun, tak lama setelah keputusan tersebut, Mahathir akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kembali proyek tersebut.

Keputusan diambil karena Malaysia terancam denda US$5 miliar atau setara 71 triliun jika proyek tersebut dihentikan.

[Gambas:Video CNN] (AFP/agt)