LPS Pangkas Suku Bunga, Rupiah Perkasa Rp14.022 per Dolar AS

CNN Indonesia | Rabu, 31/07/2019 16:43 WIB
LPS Pangkas Suku Bunga, Rupiah Perkasa Rp14.022 per Dolar AS Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --
Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.022 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Rabu (31/7) sore. Dengan demikian, rupiah menguat 0,04 persen dibandingkan penutupan Selasa (30/7) yakni Rp14.028 per dolar AS.
Sementara itu kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.026 per dolar AS atau menguat dibanding kemarin yakni Rp14.034 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp14.009 hingga Rp14.029 per dolar AS.
Sore hari ini, pergerakan mata uang utama Asia bervariasi terhadap dolar AS. Terdapat mata uang yang menguat seperti yen Jepang sebesar 0,04 persen, peso Filipina sebesar 0,05 persen, yuan China sebesar 0,06 persen, dolar Singapura sebesar 0,07 persen, dan baht Thailand sebesar 0,15 persen.
Namun di sisi lain, terdapat pula mata uang yang melemah seperti rupee India sebesar 0,02 persen, dolar Hong Kong sebesar 0,05 persen, ringgit Malaysia sebesar 0,07 persen, dan won Korea Selatan sebesar 0,09 persen.

Kemudian, pergerakan mata uang negara maju juga bervariasi. Euro tercatat melemah 0,09 persen, sementara poundsterling Inggris menguat 0,11 persen dan dolar Australia menguat 0,3 persen.
Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan rupiah hari ini sempat melemah ke posisi Rp14.029 per dolar AS pada perdagangan siang ini. Namun, posisinya kemudian perlahan menguat setelah Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengumumkan penurunan suku bunga penjaminan simpanan sebesar 25 basis poin karena likuiditas perbankan di level yang stabil.
Hal itu juga didukung oleh sikap pelaku pasar yang masih menunggu hasil pertemuan bank sentral AS The Fed untuk mengumumkan kebijakan suku bunganya sebelum benar-benar menggenggam dolar AS lagi.
Sejauh ini, pelaku pasar meramal bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Namun, fokus utama pasar adalah mengenai kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter The Fed di sisa tahun ini.

"Fokus utamanya adalah, apakah The Fed akan membiarkan pintu terbuka untuk pelonggaran kebijakan lebih lanjut dalam upaya melindungi ekonominya dari perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan dampak konflik perdagangan," kata Ibrahim, Rabu (31/7).


[Gambas:Video CNN]
(glh/sfr)