Rupiah Terburuk di Asia Gara-gara The Fed Pangkas Bunga Acuan

CNN Indonesia | Kamis, 01/08/2019 16:41 WIB
Rupiah Terburuk di Asia Gara-gara The Fed Pangkas Bunga Acuan Ilustrasi mata uang. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.116 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Kamis (1/8) sore. Rupiah melemah 0,67 persen jika dibandingkan penutupan Rabu (31/7), yakni Rp14.022 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat rupiah di posisi Rp14.098 per dolar AS atau lebih rendah dibanding kemarin, yakni Rp14.026 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah berada di dalam rentang Rp14.068 hingga Rp14.125 per dolar AS.

Sore hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia melemah 0,45 persen, yuan China melemah 0,29 persen, rupee India melemah 0,39 persen, yen Jepang melemah 0,28 persen, peso Filipina melemah 0,62 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,47 persen.

Namun, dolar Hong Kong tercatat menguat 0,02 persen dan baht Thailand menguat 0,14 persen terhadap dolar AS.

Di sisi lain, pergerakan mata uang negara maju malah terbilang bervariasi terhadap dolar AS. Dolar Australia menguat 0,1 persen, namun poundsterling Inggris melemah 0,34 persen dan euro melemah 0,27 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan rupiah terkapar setelah bank sentral AS The Fed menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Hanya saja, setelah itu, Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa The Fed tidak akan melakukan penurunan suku bunga secara agresif.

Bahkan, keputusan The Fed ini mengundang reaksi dari Presiden AS Donald Trump. Di dalam cuitannya, ia menganggap Powell telah mengecewakannya, meskipun The Fed mengatakan tidak akan menerapkan kebijakan moneter yang ketat.

"Bisa jadi ini adalah penurunan yang terakhir sebelum ada kebijakan serupa yang tidak terjadi dalam waktu dekat," jelas Ibrahim, Kamis (1/8).
[Gambas:Video CNN]
Lebih lanjut ia menuturkan pasar juga mempertimbangkan iklim investasi di Inggris setelah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berencana untuk mengeluarkan Inggris dari Uni Eropa tanpa ada perjanjian perdagangan (no-deal Brexit).

"Selain meningkatnya risiko Brexit tanpa kesepakatan, pasar juga akan fokus ke pertemuan Bank Sentral Inggris Kamis (1/8)," tandasnya.


(glh/bir)