BI Sebut Risiko 'Perang' Mata Uang Global Relatif Kecil

CNN Indonesia | Kamis, 08/08/2019 10:58 WIB
BI Sebut Risiko 'Perang' Mata Uang Global Relatif Kecil Deputi BI Dody Budi Waluyo menilai risiko perang mata uang di tingkat global relatif kecil. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) menilai risiko perang mata uang di kancah global relatif kecil. Pasalnya, negara-negara dunia akan lebih memprioritaskan kebijakan yang akan meningkatkan permintaan domestik, di tengah perlambatan perekonomian dunia.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan pelemahan mata uang dengan sengaja yang terus-menerus, akan berdampak negatif pada permintaan domestik negara tersebut. Hal itu juga berlawanan dengan upaya negara-negara di dunia dalam mengerek konsumsi dan investasi yang diperlukan untuk menahan pelemahan ekonomi global.

"Negara-negara perlu juga untuk memberikan topangan pada permintaan domestik, risiko 'currency war' (perang mata uang) tidak besar terlebih di tengah permintaan global yang memang sedang melemah," kata Dody, seperti dikutip dari Antara, Rabu (5/8).


Terkait pelemahan yuan, Dody meyakini China tak akan membiarkan hal itu terjadi terus-menerus demi menjaga perekonomiannya. Menurut Dody, kurs yuan China yang terlalu lemah akan menekan konsumsi dan investasi yang dibutuhkan untuk memitigasi penurunan kinerja eksternalnya.

Melihat kondisi yang ada, fokus BI saat ini adalah mencegah risiko yang dapat mengganggu makro ekonomi domestik dan stabilitas sistem keuangan.

Bank sentral juga akan selalu siaga di pasar untuk memastikan nilai rupiah tetap sejalan dengan fundamentalnya. Sebagai catatan, pelemahan yuan biasanya akan ikut menyeret mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Untuk itu, BI tetap akan melakukan intervensi di pasar spot dan pasar valas berjangka atau domestik NDF.

"Kami juga akan menjaga likuiditas pada tingkat yang memadai dan memastikan mekanisme pasar untuk beroperasi dengan baik," ujar dia.

Selain itu, BI juga akan mempercepat pendalaman pasar keuangan, baik di pasar uang dan valuta asing. Hal itu termasuk menyediakan mekanisme lindung nilai dengan harga lebih rendah.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah sempat tertekan hingga menembus Rp14.300 per dolar AS pada perdagangan kemarin, Selasa (6/8). Namun, pada perdagangan spot Rabu (7/8) sore ini, nilai tukar rupiah bertengger di level Rp14.225 per dolar AS atau menguat dibandingkan penutupan Selasa (6/8), yakni Rp14.268 per dolar AS.
[Gambas:Video CNN] (Antara/sfr)