Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan pelemahan mata uang dengan sengaja yang terus-menerus, akan berdampak negatif pada permintaan domestik negara tersebut. Hal itu juga berlawanan dengan upaya negara-negara di dunia dalam mengerek konsumsi dan investasi yang diperlukan untuk menahan pelemahan ekonomi global.
"Negara-negara perlu juga untuk memberikan topangan pada permintaan domestik, risiko 'currency war' (perang mata uang) tidak besar terlebih di tengah permintaan global yang memang sedang melemah," kata Dody, seperti dikutip dari Antara, Rabu (5/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, BI tetap akan melakukan intervensi di pasar spot dan pasar valas berjangka atau domestik NDF.
"Kami juga akan menjaga likuiditas pada tingkat yang memadai dan memastikan mekanisme pasar untuk beroperasi dengan baik," ujar dia.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah sempat tertekan hingga menembus Rp14.300 per dolar AS pada perdagangan kemarin, Selasa (6/8). Namun, pada perdagangan spot Rabu (7/8) sore ini, nilai tukar rupiah bertengger di level Rp14.225 per dolar AS atau menguat dibandingkan penutupan Selasa (6/8), yakni Rp14.268 per dolar AS.
[Gambas:Video CNN] (antara/sfr)